Herman Deru Resmi Jadi Keluarga Keraton Solo Bergelar Kanjeng Raden Aryo Tumenggung

SOLO, koranindonesia.id – Gubernur Sumatra Selatan (Sumsel) H Herman Deru secara resmi menjadi bagian dari keluarga besar Keraton Solo setelah  menerima  gelar Kanjeng Raden Aryo Tumenggung Herman Deru Notonegoro  bersama dengan sang istri Hj Febrita Lustia dan putri sulungnya Hj Percha Leanpuri, pada Minggu (31/3) malam, kemarin.

Sebagai  bagian dari keluarga keraton, Kanjeng Raden Aryo Tumenggung Herman Deru Notonegoro bersama dengan Kanjeng Mas Tumenggung Febrita Lustia, dan Nyimas Tumenggung Percha Leanpuri  turut menghadiri acara Tingalan Dalem Jumenengan ke-15 atau ulang tahun naik tahta Raja Surakarta, SISKS (Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan) Paku Buwono XIII, yang  diperingati setiap tahunnya setiap 1 April.

Ketiganya tampak mengenakan busana Jawa Keraton Solo. Herman Deru mengenakan beskap lengkap dengan blangkon sehingga menambah pancaran kharismatiknya orang nomor satu di Provinsi Sumsel tersebut. Sedangkan, Kanjeng Mas Febrita Lustia, dan Nyimas Tumenggung Percha Leanpuri nampak mengenakan busana kebaya yang mencerminkan keanggunan dari kalangan keluarga keraton.

Adapun puncak peringatan ulang tahun naik tahta Raja Surakarta, SISKS Paku Buwono XIII dipusatkan di Pendopo Agung Sasano Sewoko berlangsung dengan sakral. Diawali dengan pawai para prajurit Keraton Solo, kemudian kehadiran SISKS Paku Buwono XIII, yang masuk menuju  pendopo diiringi dengan gamelan patetan, serta penampilan para penari Bedoyo Ketawang di hadapan para tamu undangan yang hadir.

Gubernur Sumsel yang kini bergelar Kanjeng Raden Aryo Tumenggung Herman Deru Notonegoro terlihat senyum sumringah, dengan roman muka berseri-seri mengikuti seluruh prosesi acara peringatan ulang tahun Raja Surakarta.

Menurut Herman Deru, kearifan lokal yang diwariskan para nenek moyang bangsa ini wajib dilestarikan. Karena jika tidak akan punah tergerus oleh zaman yang sifatnya dinamis, seiring dengan majunya peradaban manusia dari masa ke masa. “Adat istiadat yang diwariskan para leluhur kita dulu merupakan kearifan lokal yang harus terus dijaga dan dilestarikan. Ini tidak lain agar, generasi setelah kita tetap mengetahui akar budaya yang  kita miliki,” sebutnya.

(FOTO/HUMAS PEMPROV)

Menurutnya, seseorang bisa saja mengikuti kemajuan zaman dan berpikiran modern, namun hendaknya tidak meninggalkan dan melupakan asal muasal identitas dirinya. “Sumsel sendiri memiliki adat istiadat dan budaya yang tidak kalah menarik dengan daerah lain di Indonesia. Ada beragam suku dan bahasa daerah di Sumsel yang juga harus kita lestarikan,” imbuh mantan Bupati OKU Timur dua periode ini.

Karena itu, dirinya tidak pernah berhenti mengingatkan warga Sumsel untuk menjaga budaya dan kearifan lokal yang ada sebagai bagian dari semboyan Bhineka Tunggal Ika dalam bingkai NKRI. Sementara itu, salah satu Abdi Dalem Keraton Solo, KRT Siswanto Dipuro, yang dalam kesehariannya biasa bertugas mendampingi wisatawan menceritakan bahwa peringatan ulang tahun naik tahta Raja Surakarta dilaksanakan untuk melestarikan upacara adat yang sudah lama ada dalam sejarah Keraton Solo.

“Sebelum acara puncak, pada beberapa hari sebelumnya kita adakan bebersih Keraton. Upacara peringatan ulang tahun raja naik tahta ini dulunya hanya dihadiri, oleh anggota keluarga Keraton dan para abdi dalem saja. Namun, seiring berkembangnya zaman yang hadir  tidak hanya terbatas pada keluarga Keraton saja,” ungkap KRT Siswanto Dipuro.

Dijelaskannya, rangkaian acara peringatan ulang tahun naik tahta Raja Surakarta juga dilakukan pemberian sesebutan/gelar pangkat yang tidak terbatas hanya kepada orang Jawa ( keluarga Keraton/abdi dalem) saja. Namun gelar keraton juga diberikan kepada sejumlah tokoh  yang dinilai memiliki kepedulian dengan budaya Jawa, salah satunya Gubernur Sumsel Herman Deru, dan sejumlah kepala daerah lainnya di Indonesia, serta kepada para tokoh Internasional. “Pemberian sesebutan/gelar pangkat dari Keraton Solo telah dilakukan sejak beberapa waktu lampau. Tetapi pada masa itu, gelar hanya diberikan secara terbatas kepada satu – dua orang saja. Kini seiring waktu, pemberian sesebutan/gelar pangkat tersebut diperluas lagi,” pungkasnya.

Tampak hadir dalam Tingalan Dalem Jumenengan ke – 15 ini Mendagri Tjahyo Kumolo, Menko Polhukam Wiranto, pengusaha kosmetika dan kecantikan Moeryati Soedibyo serta tamu undangan lainnya.

(rel)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.