Hanya 30% Masyarakat Indonesia Sadar, Persiapkan Dana untuk Menikmati Pensiun

JAKARTA, koranindonesia.id – Survei HSBC Future of Retirement Bridging The Gap menyebutkan, dari 1.050 orang Indonesia, ternyata 60% diantaranya menginginkan masa tua yang nyaman. Tetapi ternyata hanya 30% saja, yang telah sadar dan tergerak untuk mempersiapkan dana dan menikmati masa pensiun.

Head of Wealth Management PT Bank HSBC Indonesia Steven Suryana mengatakan, padahal mayoritas responden survei mengkhawatirkan, apakah akan mandiri secara finansial saat pensiun. Perinciannya, 86% responden mengkhawatirkan apakah akan hidup dengan nyaman. 83% khawatir meningkatnya kebutuhan biaya kesehatan, dan 77% mengkhawatirkan kehabisan dana pensiun.

“Memang tidak seindah ekspektasi. Itulah sebabnya, dana pensiun harus mulai dipersiapkan sejak dini dengan baik. Sayangnya kesadaran ini biasanya timbul saat sudah mendekati masa pensiun,” ungkapnya di Senopati Suites, Jakarta, Selasa (12/2/2019).

Survei ini dilakukan kurang lebih enam bulan kepada usia pekerja dan pensiun (21- 55 tahun), menunjukkan, 2/3 responden usia kerja menyatakan akan Ianjut bekerja setelah pensiun. Seperti memulai berwirausaha (54%), sedangkan sisanya memilih mengandalkan kebutuhan sehari-hari dari hasil tabungan (29%), kembali mencari pekerjaan (25%), serta membangun kos-kosan atau menyewakan rumah (19%). “Jadi satu orang bisa memiliki lebih dari satu rencana,” terangnya

Ditambahkannya, solusi finansial pada masa pensiun sebenarnya dapat disiapkan melalui berbagai instrumen investasi seperti reksadana, properti, saham, emas, dan asuransi. Reksadana saham misalnya, bisa menghasilkan return besar. Oleh karena itu, ada baiknya mempersiapkan dana pensiun sesuai dengan kebutuhan serta memahami profil resiko setiap instrumen investasi.

Perwakilan PT Ashmore Asset Management Indonesia Steven Satya Yudha mengatakan, keasadaran investasi di Indonesia masih sangat rendah. Padahal, investasi itu sebaiknya disisihkan terlebih dahulu dari income, dan bukan disisakan.

“Pola kehidupan financial masyarakat, 70% konsumsi baru investasi. Itu keliru. Jika menginginkan return yang tinggi tentunya harus menanggung resiko yang tinggi juga,” tandasnya.

(erw)    

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.