Banner sumsel

Gubernur Sumsel Harus Tegur Walpri yang Bertindak Arogan

PALEMBANG, koranindonesia.id – Ketua Bidang Advokasi dan Pembelaan Wartawan, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Ocktap Riady menyesalkan terjadinya ‘keributan’ antara pengawal pribadi (walpri) Gubernur Sumatra Selatan (Sumsel) dengan wartawan detik.com yang sedang melakukan tugas peliputan, Sabtu (10/11/2018).

Dalam pernyataan tertulisnya, Ocktap Riady meminta kepada Gubernur Sumsel Herman Deru untuk memberikan peringatan dan teguran kepada oknum walpri yang dinilainya telah bertindak arogan tersebut.

“Kalau perlu minta maaf atas insiden tersebut. Wartawan bisa juga mengadukan persoalan ini ke polisi atau Dewan Pers dan organisasi pers tempat dia bergabung,” ungkap Ocktap Riady.

Selain itu, Ocktap juga meminta oknum walpri semestinya, bisa menahan diri dan tidak perlu sampai menantang wartawan berkelahi. Menghalangi tugas wartawan dikatakannya, juga tidak dibenarkan dalam Undang Undang (UU) Pers Nomor 40/ 1999

“Wartawan tidak dilengkapi ilmu bela diri, sementara walpri pasti dilengkapi ilmu bela diri dan mungkin senjata. Jadi pasti kalah wartawan. Bertindak arif dan bijaksanalah,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, wartawan detik.com, Raja Adil Siregar menerangkan, kronologis keributan yang terjadi antara dirinya dengan staf pengawal pribadi Gubernur Sumsel di acara PT Sampoerna yang berlangsung di PTC Mal Palembang, Sabtu (10/11/2018).

Menurutnya, peristiwa bermula saat dirinya mencoba mendekat ke arah Gubernur Sumsel Herman Deru untuk melakukan wawancara. Karena kondisi lokasi yang sempit dan dipenuhi kerumunan orang saat itu, dirinya pun sempat meminta izin kepada walpri yang berpakaian safari hitam lengkap.

“Karena jarak saya dengan Gubernur jauh dan tidak bisa bertanya, saya bilang mau izin untuk kedepan. Saat itu saya ingin bertanya terkait UMKM, tapi perut saya selalu dihalangi dan tidak bisa maju ke depan. Padahal saat itu ada wartawan lain di depan dan masih ada jarak untuk saya maju sedikit,” paparnya.

Ditambahkan Raja pula, oknum walpri itu juga sempat menahan dirinya saat mencoba melakukan wawancara dengan cara menarik jaket yang dikenakannya saat itu. Sembari berkata berkata ‘Jangan maju dan jangan dorong-dorong’.

Masih menurut Raja, selesai wawancara dirinya sempat berkata kepada walpri Gubernur Sumsel tersebut, bahwa dirinya adalah seorang wartawan, dan tahu kapasitasnya. Tentu, dirinya bisa menjaga jarak, dan tidak mungkin akan mendorong-dorong.

“Saat kalimat itu saya ucapkan, seorang walpri marah dan menanyakan kenapa saya ngomong begitu. Padahal kalimat itu menjawab pernyataan walpri, supaya tidak terlalu dekat dengan Gubernur dan menurut saya itu jarak yang normal. Entah apa yang terjadi, tiba-tiba seorang walpri menarik saya dan mendorong ke belakang. Saat itu ada Karo Protokol Pemprov Sumsle, Pak Iwan yang menanyakan ada apa, ” bebernya lagi.

Disebutkan Raja, namun kemudian sejumlah walpri berseragam safari lengkap datang dan mendorong dirinya agar keluar dari kerumunan. Untungnya saat itu dirinya tidak sempat terjatuh.

“Saat akan mundur ke belakang, lagi-lagi walpri datang dan menyorong sambil melontarkan kalimat yang kalau tidak salah saya berkata ‘Memangnya kenapa kau ha?,” sambil mendorong kebelakang. Saat itu suasana semakin panas setelah saya didorong dan saya masih berusaha menjelaskan. Tiba-tiba teman-teman media lain datang, saya sempat ditarik ke belakang. Tapi tetap saja beberapa walpri mengejar saya dan mengajak berkelahi,” sebutnya.

Terakhir diakuinya, ia dilerai oleh Staf Khusus Bidang Media Gubernur Sumsel, yang meminta dirinya menjauh dari acara saat itu.

(ded)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.