Banner sumsel

Grebeg Sudiro, Cermin Bhineka Tunggal Ika Melalui Akulturasi Budaya

SOLO, koranindonesia.id – Penyelenggaraan Grebeg Sudiro yang dipusatkan di Kawasan Pasar Gede Kota Solo pada Minggu (3/2/2019) berlangsung meriah. Ribuan warga dari seluruh kawasan Jawa Tengah tumpah ruah dalam kegiatan dengan nuansa kental pluralisme di Kota Solo tersebut.

Tampak jelas, akulturasi budaya etnis Tionghoa dan masyarakat Jawa benar-benar tercermin dalam pertunjukan yang ditampilkan. Nampak tokoh lakon Sun Go Kong bersama guru dan adik-adiknya, pertunjukan wushu, barongsai hingga keseninan reog.

Termasuk, beraneka ragam jodang. Dua jodang utamanya adalah Stasiun Jebres dan jodang Pagoda Tian Ti Surabaya. Adapula jodang tugu jam Pasar Gede, jodang Klentheng dan sebagainya. Total Karnaval Budaya Grebeg Sudiro diikuti 54 kelompok sekitar 1.500 orang.

Meski sempat diguyur hujan, tak menyurutkan semangat peserta untuk menjalankan kirab. Mereka tetap berjalan dan menampilkan kesenian adat potensi dari tiap-tiap kelompok, begitu pun masyarakat. Ada yang memilih tetap bertahan dengan menggunakan payung dan jas hujan.

Wali Kota Solo, FX. Hadi Rudyatmo mengatakan, Pemkot Solo, akan terus melestarikan dan mendukung kegiatan Grebeg Sudiro dan pemasangan lampion dari tahun ke tahun. Pasalnya, melalui kegiatan ini mampu menarik wisatawan untuk datang ke Solo.

“Baik di 2020 nanti, sampai ke tahun-tahun selanjutnya akan terus dilaksanakan, banyak sekali masukan dari masyarakat untuk terus melestarikan tradisi kebudayaan yang dimiliki Kota Solo ini. Selain itu juga menarik wisatawan,” kata Rudy.

Ditempat yang sama, Lurah Sudiroprajan, Dalimo mengatakan, Grebeg Sudiro merupakan pertunjukan akulturasi kebudayaan yang luar biasa menampilkan keindahan dan wajib ditampilkan setiap memasuki masa perayaan tahun baru China.

Grebeg Sudiro menjadi sebuah gambaran pluralisme masyarakat dan menjadi agenda rutin tahunan masyarakat Sudiroprajan yang saat ini sudah memasuki tahun ke-12.

“Dalam Grebeg Sudiro ini, ada dua kebudayaan bersatu sehingga menampilkan kegiatan yg begitu indah fantastis. Perbedaan itu lah menjadi magnet masyarakat dan menjadi kekuatan Grebeg Sudiro,” kata Dalimo.

Pihaknya berharap, kegiatan ini terus diadakan mengingat potensi budaya sekaligus cermin kerukunan masyarakat di Kota Solo.

“Inilah cermin Bhineka Tunggal Ika yang ada di Kota Solo. Meski memiliki latar belakang dan keyakinan berbeda, namun mampu tampil dan berpadu, saling menghormati satu dengan yang lain. Baik dalam kehidupan bermasyarakat maupun berkeyakinan,” katanya.
(ali)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.