Ginandjar dan Aziz Syamsuddin Dukung Airlangga jadi Ketum Golkar

JAKARTA, koranindonesia.id – Politikus Golkar, Aziz Syamsuddin menyatakan dukungannya kepada Airlangga Hartarto untuk kembali maju sebagai calon Ketua Umum Partai Golkar dalam Musyawarah Nasional Desember 2019. Atas dukungan kepada Airlangga, ia pun menegaskan tidak maju di bursa ketua umum Golkar.

“Saya tidak maju. Kita dukung Pak Airlangga,” kata Aziz, Jumat (5/7/2019).

Aziz belum menyampaikan alasannya tidak maju sebagai calon ketua umum pada munas mendatang. Pada Munas Luar Biasa 2017, Aziz sempat maju mencalonkan diri namun akhirnya mengundurkan diri.

Sejauh ini, nama politikus Golkar yang hampir dipastikan maju dalam bursa pemilihan Ketua Umum Golkar pada Munas 2019 adalah Airlangga Hartarto dan Bambang Soesatyo. Airlangga telah mengisyaratkan memperoleh dukungan dari DPD Golkar serta memperoleh dorongan dari Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Dorongan dari Jokowi tercermin dari pertemuan Airlangga beserta pimpinan DPD Golkar dari 34 provinsi dengan Presiden Jokowi di Istana Bogor beberapa waktu lalu. Menurut DPP Golkar, dalam pertemuan itu tersirat bahwa Presiden merasa nyaman dengan Golkar di bawah kepemimpinan Airlangga Hartarto. Sementara Bambang Soesatyo juga menyatakan mendapat dukungan sejumlah pihak untuk maju dalam munas mendatang.

Sementara tokoh senior Partai Golkar (PG) Ginanjar Kartasasmita mengemukakan arus utama (mainstream) Golkar menginginkan Airlangga Hartarto kembali melanjutkan kepemimpinan satu periode lagi. Hal itu karena Airlangga terbukti berhasil memimpin partai berlambang pohon beringin itu dengan kembali menempatkan Golkar pada peringkat kedua dalam perolehan suara di parlemen. Selain itu, Airlangga berhasil melakukan konsolidasi internal sehingga pada Pemilu 17 April lalu, sehingga kader Golkar tidak terbelah tetapi satu tekad dalam memenangkan Golkar.

“Bukan saatnya mengganti pimpinan. Golkar masih harus berkonsolidasi pascapemilu,” kata Ginanjar di Jakarta, Kamis (4/7/2019).

Ia menjelaskan memang ada nama yang muncul untuk menggantikan Airlangga. Namun kemunculan nama-nama itu hanya berada di garis pinggir dan didukung utamanya oleh mereka yang tidak memiliki suara.

“Seperti sayalah, saya kan tidak punya hak suara. Daerah yang punya hak suara. Dewan Pimpinan Daerah (DPD), baik Provinsi, Kabupaten maupun Kota, sudah resmi meminta Airlangga untuk melanjutkan memimpin Golkar,” jelas Ginanjar yang merupakan mantan Menko Ekuin pada masa Orde Baru.

Dia menegaskan ada batas minimum untuk dapat mencalonkan di Munas nanti. Dia tidak yakin selain Airlangga dapat mencapai threshold atau persyaratan minimal tersebut.

“Mungkin saja yang terjadi demokrasi yang aklamasi. Itu akan baik sekali untuk Golkar ke depan yaitu solid, kompak, bersatu menyukseskan program pemerintah. Sambil bersiap menyongsong kontestasi politik di 2024,” tutup Ginanjar.(Mar)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.