Gilang: Semangat Pengabdian itu Mengiklaskan Hati

Berdiri gagah di terik matahari sore.  Tangan perkasanya menggendong toa.  Sambil membunyikan sirene.  Sebuah tanda pemanggil pasukan kecil dari Goedang Boentjit dan tanda pembelajaran akan segera dimulai.  Seketika puluhan  anak terkumpul. Kesan gagah, garang itu sirna, saat ia mulai menyapa, sikap lembut dan ramah  yang lebih dominan terpancar. Semangat untuk berbagi ilmu juga nampak dalam logat berbicaranya yang bergelora. “Selamat sore adik-adik, apa kabar?” salam pembukanya.

Dialah Pratomo Gilang Mandala (24), Alumni Pendidikan Jasmani dan  Kesehatan Universitas Sriwijaya. Ia adalah sosok penting bagi anak-anak di Goedang Boentjit. Sudah kurang lebih tiga bulan ini hidupnya diabdikan untuk mereka,  lewat cara berbagi ilmu setiap sabtu sore di Goedang Boentjit di pinggiran Sungai Musi Palembang.

Gilang telah jatuh hati sejak pertama bertemu dengan anak-anak Boentjit.  Tergerak hatinya melihat anak-anak di daerah itu banyak yang putus sekolah. Selain itu ia merasa miris melihat anak-anak usia Sekolah Dasar (SD) lebih asik bersenda-gurau tidak sekolah dan jauh dari  aktivitas yang  bermanfaat seperti membaca buku.  Dia galau melihat anak-anak tersebut,  dan ingin melakukan sesuatu. Terwujud lah menjadi  komunitas Boentjit Cerdas.

Dukungan teman-teman makin membuat Gilang terdorong untuk terus berjuang bersama-sama menjalankan komunitas ini. Sampai sejauh ini, Gilang dan Komunitas masih mengandalkan uang pribadi, ada beberapa bantuan dari donatur namun lebih banyak dari kocek pribadi.

Bagi pemuda asal Belitang ini masalah uang  bukan menjadi permasalahan utama yang terpenting baginya adalah bagaimana bisa merubah  pikiran anak-anak itu lebih suka belajar dan beraktivitas namun bermanfaat untuk masa depannya. Karena  masalah uang bisa dicari atau  bisa meminta bantuan donatur dan sponsor.

Gilang (facebook)

Selain aktif di berbagai komunitas  Gilang adalah seorang   wirausaha muda.  Saat ini Ia menjalankan usah di bawah bendera  CV Global Bangkit Sriwijaya, usahanya yang bergerak dalam penyewaan genset.

Nah, dengan seabrek aktivitas itu maka Gilang harus pandai membagi waktu, pertama ia harus memberi waktu untuk anak-anak Boentjit.  Kedua dia harus memberikan waktu untuk aktivitas lainnya. Dan terakhir dia harus menyediakan waktu untuk usaha. Tentu membagi waktu untuk tiga hal penting seperti itu bukanlah hal mudah. Namun bagi Gilang itu tidaklah begitu sulit,  yang terpenting bagi dia adalah keiklasan dalam menjalani semuanya, jangan mengeluh. Dengan iklas lah dia dapat lancar menjalani semuanya.

Selama mendampingi anak-anak belajar , begitu banyak pengalaman dan  ilmu yang telah didapat dari komunitas ini. Gilang merasa sangat bahagia bisa membuat anak-anak tertawa mendapat pengetahuan baru, misalnya. Namun,  namanya juga  anak-anak kadang saat menerangkan mereka asik bermain, malah tidak peduli dengan apa yang kita bicarakan, nah disini harus ada inovasi dari pengajar agar mereka kembali fokus.

“Anak-anak Boentjit bukanlah anak-anak yang mudah diajak belajar. Mereka kebanyakan adalah anak-anak yang tidak terurus bahkan beberapa anak  sering ngelem”,kata Gilang.

Namun, disinilah tantangannya, dia dan teman-teman bisa lebih semangat dalam mengabdikan diri mereka karena tujuan dari komunitas yang mereka dirikan yaitu merubah anak-anak ini menyongsong masa depan yang lebih baik. Dengan mengisi aktivitas lebih bermanfaat, walaupun di akui oleh Gilang masih kurang karena mereka baru  meluangkan waktu sepekan sekali. Ditambah,  umur mereka yang berusia sekitar 6-12 tahun membuat  susah fokus untuk belajar. Maunya mereka hanya bermain dan bermain.

“Oleh sebab itu kami harus banyak inovasi dan kreatif dalam menggajar anak-anak Boentjit”,katanya. Salah satunya,dengan mengajak mereka Wisata Edukasi di Taman Wisata Alam Punti Kayu yang bertujuan agar membuat anak-anak lebih bahagia dalam belajar.

Gilang dan kawan-kawan Komunitas Boentjit Cerdas sudah melakukan hal kecil untuk berbuat tentu kita berharap banyak Gilang-Gilang lain yang diusia mudanya sudah melakukan hal kecil namun besar manfaatnya bagi orang-orang yang membutuhkan.

“Pengabdian butuh keiklasan hati dan lakukan saja”, tutupnya. (Marcelino)

 

 

 

 

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.