Banner sumsel

Empat Remaja Peretas Situs Pemerintah Dibekuk Bareskrim Mabes Polri

JAKARTA, koranindonesia.id – Direktorat Siber Bareskrim Mabes Polri berhasil membekuk kelompok hacker Black Hat, yang meretas salah satu situs milik institusi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Tenggara (Sultra).

Kasubdit II Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Kombes (Pol) Rickynaldo Chairul mengatakan, para pelakunya merupakan remaja, bahkan tergolong masih anak-anak, yang dilatih untuk melakukan teknik peretasan (hacking) situs dengan metode defacing, atau teknik mengubah halaman muka sebuah situs.

Dikatakan Rickynaldo, pada akhir Juni hingga pertengahan Juli silam, salah satu instasi pemerintahan di Provinsi Sultra itu mengalami serangan hacking, yaitu menggunakan metode defacing, setiap hari, setiap jam secara massif.

“Para pelaku berhasil ditangkap di sejumlah lokasi berbeda, yaitu di Jambi, Cirebon, Mojokerto dan Surabaya. Mereka adalah LYC alias Mr. L4m4 (19), MSR alias G03J47 (14), JBKE alias Mr. 4l0ne (16) dan HEC alias S3CD3C/DAKOCH4N (13),” ungkapnya kepada wartawan di Jakarta, Jumat (9/11/2018).

Selain itu, polisi juga berhasil menyita sejumlah barang bukti, yaitu masing-masing satu unit telepon selular (ponsel) Lenovo type A700A, ASUS Z00ED, dan Samsung J1. Selain itu, turut disita satu unit Laptop merk Toshiba, dua unit Laptop merk Acer, dan satu Flasdisk Toshiba 8 GB.

Rickynaldo mengatakan, polisi masih melakukan penyelidikan terkait motif di balik aksi ini. Terlebih tampilan muka situs yang diretas, diubah dengan gambar dan simbol yang mengarah ke radikalisme. Diantara gambar yang dipasang adalah bendera Palestina dan sosok gerakan radikal.

“Hasil penyelidikan kami, Black Hat ini masih sebatas merekrut cyber troop. Dan kemudian melakukan bimbingan khusus, tutorial, dan uji coba sampai sejauh mana kemampuan anak-anak. Sedangkan apakah arahnya ini ke radikalisme, SARA atau politik, kami masih belum bisa memastikan,” terangnya.

Polisi juga masih melakukan penyelidikan seputar dalang di balik kelompok Black Hat ini. Di tempat yang sama, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Susanto mengingatkan, agar para orang tua terus melakukan pemantauan terhadap anak-anaknya, dalam pemanfaatan teknologi informatika.

Menurutnya, kasus kejahatan cyber yang melibatkan anak belakangan ini, cenderung mengalami peningkatan. Untuk itu, sangat diperlukan pengawasan terhadap anak, agar bisa terhindar dari kejahatan teknologi informatika.

“Memang kalau dilihat tren kasus-kasus terkini, anak-anak korban cyber dan pornografi itu trennya naik dan perlu diwaspadai,” tandasnya.

(erw)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.