Banner sumsel

Donor Darah Massal Riskan Ditemukan Penyakit

BATURAJA, koranindonesia.id – Tidak semua darah pendonor dapat digunakan untuk disalurkan ke pasien. Sebelum digunakan darah hasil donor diperiksa dengan teliti terlebih dahulu, sebelum disalurkan ke pasien yang membutuhkan. Jika terindikasi ada penyakit menular maka darah tersebut tidak akan dipakai, dan akan segera dimusnahkan.

Hal ini dijelaskan, Sekretaris UTD PMI Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Yunizir Djakfar didampingi Kabid Pelayanan UTD PMI OKU Dedi Arisandi saat dibincangi, Senin (4/2/2019). Tak dipungkiri kata Yunizir, saat melakukan pengambilan darah pendonor secara massal, saat dilakukan pengecekan ada terdapat darah yang terindikasi penyakit menular. Misalnya indikasi HIV, indikasi sipilis, indikasi hepatitis dan lainnya. Jika ditemukan maka darah itu tidak akan dipakai dan langsung akan dimusnahkan.

“Pernah kita temukan saat pengambilan donor darah massal. Jika menemukan hal seperti ini kita akan langsung berkoordinasi dan melaporkan dengan Dinas Kesehatan dan RSUD. Dalam laporan itu kita hanya menyerahkan sampel dan nomor kantong darah tanpa identitas pemilik darah, sebab ini merupakan privasi seseorang. Hal ini sudah sesuai dengan SOP PMI,” jelasnya.

Menurut Yunizir lagi, dalam melakukan pengambilan darah pendonor dilakukan sangat selektif dan sesuai SOP yang berlaku. Pertama dilakukan pendataan administrasi, dan pengecekan jenis golongan darah bagi pendonor yang belum tahu golongan darahnya. Selanjutnya pemeriksaan HB, yang dilanjutkan dengan dilakukan pemeriksaan terhadap sample darah, apakah ada penyakit atau tidak?.

“Jika semua memenuhi syarat selanjutnya akan dilakukan pengambilan darah. Ini dilakukan untuk keselamatan pendonor itu sendiri. Jadi ada beberapa proses pemerikasaan yang dilakukan sebelum darah pendonor diambil,” jelasnya.

Yunizir menjelaskan, setelah darah diambil maka ada lagi pemeriksaan. Dan jika benar-benar aman dan siap disalurkan, pihak PMI OKU akan mengutus petugas untuk mengantarkan darah dimana tempat pasien dirawat. “Pengantaran darah dilakukan oleh petugas kita PMI. Kita ada petugas untuk mengantarkan darah ke rumah sakit pasien dirawat. Pihak keluarga tidak boleh membawah sendiri darah dari PMI ke rumah sakit. Hal ini dilakukan agar darah benar-benar sampai pada tempatnya,”pungkasnya.

Ditambahkan Kabid Pelayanan UTD PMI OKU Dedi Arisandi, hingga akhir 2018 lalu, dari total 3.354 sample ada 74 yang tidak dapat dipakai, dan batal diambil darah saat mendonor. Dari jumlah tersebut sebanyak 21 sample terindikasi sipilis. empat sample terindikasi HIV, dan 33 terindikasi HbsAg atau Hepatitis, dan 16 terindikasi HCV atau Hepatitis. “Kita tidak memvonis. Darah tidak terpakai dan batal diambil karena ada indikasi mendekat ke penyakit tersebut, sudah dimusnahkan,” sebutnya.

(tin)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.