Banner Pemprov 2020
Banner 23 September

Dolar AS Akhiri Agustus di Terendah Dua Tahun

New York, koranindonesia.id – Dolar AS tergelincir terhadap sejumlah mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), mencapai level terendah lebih dari dua tahun dan mencatat kerugian empat bulan berturut-turut menyusul perubahan kebijakan Federal Reserve AS terkait inflasi.

Terhadap sejumlah mata uang utama saingannya, dolar terakhir turun 0,08 persen pada 92,161, setelah mencapai level terendah sejak 1 Mei 2018. Dolar turun sekitar 1,5 persen untuk bulan tersebut, menandai Agustus terburuk dalam lima tahun dan periode kerugian bulanan terpanjang sejak musim panas 2017.

Euro yang memiliki bobot terberat di antara enam mata uang dalam keranjang indeks dolar, menguat 0,24 persen menjadi 1,193 dolar, setelah melonjak sekitar 1,4 persen pada Agustus, juga kenaikan bulanan keempat berturut-turut.

Investor menyesuaikan dengan pidato Kamis lalu (27/8/2020) di mana Ketua Fed Jerome Powell menguraikan perubahan kebijakan akomodatif yang diyakini dapat mengakibatkan inflasi bergerak sedikit lebih tinggi dan suku bunga tetap lebih rendah lebih lama.

“Penurunan dolar telah menjadi pemenang akhir-akhir ini, menyusul perubahan kebijakan inflasi Fed, yang akan menjaga suku bunga AS mendekati nol untuk waktu mendatang, dan mempertahankan (dolar AS) di bawah tekanan,” tulis analis di Action Economics.

Pernyataan Powell minggu lalu memperkuat tren penurunan dolar. Stimulus The Fed untuk mengimbangi dampak ekonomi dari pandemi virus corona telah mendorong aset-aset berisiko lebih tinggi dan merugikan safe-haven dolar.

“Saya pikir apa yang kami lihat adalah kelanjutan dari pergerakan penurunan dolar yang dimulai pada kuartal kedua. Pesan Fed minggu lalu hanya memperkuat itu,” kata Daniel Katzive, kepala strategi valas untuk Amerika Utara, BNP Paribas.

Yen melemah 0,5 persen menjadi 105,87 per dolar karena pandangan bahwa pemimpin Jepang berikutnya akan tetap berada di jalur program kebangkitan ekonomi ‘Abenomics’. Yen naik menjadi 105,18 pada Jumat (28/8/2020) setelah pengunduran diri Shinzo Abe sebagai perdana menteri karena alasan kesehatan.

Dalam beberapa pekan terakhir, yen belum menguat secara proporsional terhadap pelemahan dolar.

“Dolar-yen tetap menarik perhatian yang sangat terlihat bergerak di arah yang salah. Jelas ada beberapa penjelasan berbasis aliran, tetapi saya rasa kita tidak tahu persis apa yang mendorongnya. Saya kira fundamental pada akhirnya akan menang dan Anda akan melihat gangguan pada pasangan itu,” kata Katzive.

(ant)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.