Banner sumsel

Disiplin Dosen Cerminan Mahasiswa

Oleh Syartika Wulandari (Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang)

Kedisplinan merupakan suatu kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses dari serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan dan ketertiban. Kedisiplinan bukan hanya sebagai pencakup dalam sebuah lembaga pemerintahan saja atau sebuah organisasi. Kedisiplinan juga mencakup seluruh aspek dalam kehidupan, baik berupa kedisiplinan diri sendiri, kedisiplinan terhadap orang lain, maupun kedisiplinan dalam ruang lingkup kerja dan civitas akademika.

Kedisiplinan dalam proses pendidikan sangat diperlukan karena bukan hanya untuk menjaga kondisi suasana belajar dan mengajar berjalan dengan lancar, tetapi juga untuk menciptakan pribadi yang kuat bagi setiap  pelajar maupun mahasiswa (khususnya). Kedisiplinan dalam pendidikan juga mencakup kedisiplinan mahasiswa, tenaga pengajar seperti dosen dan staff yang lainnya.

Seperti halnya kedisiplinan dosen yang diatur dalam BKN (Beban Kerja Dosen) yang merupakan kegiatan Tridharma Perguruan Tinggi yang dilakukan oleh dosen yang meliputi bidang pendidikan dan pengajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat dan penunjang kegiatan tridharma perguruan tinggi. Oleh karena itu beban kerja dosen harus terdistribusi secara proposional dan terstruktur pada setiap bidang kegiatan Tridharma Perguruan Tinggi sebagai pedoman dan pengawasan terhadap kinerja serta kedisiplinan dosen terutama dalam bidang pembelajaran.

Karena dosen bukan hanya sebagai pemberi materi yang berupa slide lalu menjelaskan dan kemudian memberi tugas. Lebih dari itu dosen juga sebagai teladan bagi setiap mahasiswa. Seperti yang di jelaskan oleh Menteri Pendidikan Muhadjir Effendy bahwa problem pendidikan saat ini di samping terkait materi ataupun metodologi pembelajaran, hal terpenting adalah kurangnya keteladanan. Jika guru tidak bisa menjadi teladan, maka hilanglah jati diri keguruannya. Karena itu, keteladanan ini lah yang kita dorong. Bagaimana guru bisa tampil sebagai teladan atau the significant other. (bisnis.com. 15/8/2018)

Dosen sebagai teladan mahasiswa sama hal nya dengan dosen sebagai kompas nya mahasiswa. mengapa demikian? Karena setiap tingkah laku yang di contohkan oleh dosen secara tidak langsung akan berdampak juga bagi perilaku mahasiswa. Namun, dalam hal ini ada saja yang menyandang sebagai teladan (dosen) yang tidak menjalani kedisiplinan dengan baik. Baik dalam segi keterlambatan maupun kehadiran.

Selama ini kita selalu digencarkan dengan tuntutan terhadap mahasiwa tentang kedisiplinan. Namun tak banyak yang menyangkal kedisiplinan seorang dosen. Seperti hal nya dalam segi kehadiran tidak sedikit dosen yang sering mengabaikan tatap muka dengan mahasiswa. Ada dosen hanya masuk beberapa kali saja lalu memberikan tugas.  Hal ini terkadang membuat mahasiswa bingung akan kinerja dosen.

Jika hanya datang  memberi pengantar dan menyuruh mencari jurnal. Mahasiswa pun dapat melakukannya di rumah tanpa datang ke kampus. Terlebih lagi jika alasan seorang dosen dapat di maklumi sebagaimana mahasiswa berhalangan hadir maka itu sah sah saja.  Apalagi alasan dosen tidak masuk karena “urusan pribadi dan urusan pekerjaan di luar” tentu ini  yang membuat janggal di hati mahasiswa. Karena setiap manusia baik dosen maupun mahasiwa juga masing masing memiliki urusan pribadi. Tergantung dari mana individu tersebut dapat memanagement dengan baik waktu yang ada.

Disisi lain tak sedikit mahasiswa yang pro terhadap fenomena dosen yang “jarang masuk”  bahkan hal tersebut dapat menjadi euporianya mahasiswa karena dengan alasan nilai yang sudah terjamin bagus. Tapi bagi mahasiswa yang sedikit kritis nilai memang penting, tapi apakah skill mahasiswa itu jauh lebih penting?

Mengapa hal ini tetap terjadi, karena adanya sikap cuek dari mahasiswa itu sendiri. Yang di akibatkan karena adanya penjaminan terhadap nilai. Dan bagi mahasiswa yang kritis adanya ketakutan untuk melaporkan kepihak yang bertanggung jawab atas hal ini. Sebab masing masing kita, baik dosen maupun mahasiswa mempunyai hak dan tanggung jawab.

Namun, sekali lagi tulisan ini tidak menghakimi semua dosen, hanya ada beberapa dosen yang melakukan hal itu, dan biasanya kita sebut ‘oknum’, karena masih banyak sekali dosen-dosen baik dan tidak  melanggar sebuah aturan. Justru ada saja dosen yang membuat semangat mahasiswa menjadi lebih membara di karenakan adanya motivasi dan contoh yang baik dari dosen tersebut. Mulai dari kedisiplinan, cara mengajar dan prestasi yang diraih dosen tersebut.

Lalu bagaimana  mengatasi fenomena ini,  selaku mahasiswa sudah seharusnya  melapor kepadai lembaga pendidikan dimana dosen itu mengajar. Tentu dengan catatan bahwa mahasiswa tersebut memiliki bukti yang kuat agar informasi yang di berikan dapat dipercaya. Jika  sudah ada sebuah laporan maka pihak yang bertanggung jawab harus bertindak tegas seperti pemberian surat peringatan.

Terakhir, untuk meningkatkan semangat kerja dosen dalam mengajar, lembaga juga dapat memberikan penghargaan bagi dosen yang berkinerja  baik. Artinya lembaga bisa memberikan award kepada dosen-dosen yang dinilai memiliki semangat disiplin tinggi dengan memajang foto mereka di selasar kampus. Semua itu dilakukan agar  kedisiplinan dosen  juga tercermin dari sikap mahasiswa mahasiswanya. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.