Banner sumsel

Diduga Dipukuli Atasan, Bripda Ranu Dirawat di Rumah Sakit

PALEMBANG, koranindonesia. Id -Bripda Ranu Pranata harus menjalani perawatan di Rumah Sakit Islam Siti Khadijah Palembang. Ia mengalami luka memar di tubuh dan kepala, diduga dianiaya oleh atasannya Ipda N.

Bripda Ranu menjelaskan kejadiannya berawal ketika ia mendapatkan sprint (surat perintah tugas) pengamanan dari Kanit Dikyasa untuk bertugas di Jalan Marga Mulya, tepatnya di rumah pribadi Bupati Musirawas, Jum’at (13/4/2018).

Usai mendapatkan sprint itu, dia langsung menjalani tugasnya. Tak lama berselang, Ranu mendapatkan telpon dari Ipda N untuk segera merapat ke rumah dinas Bupati Musirawas. Ia pun langsung memenuhi permintaan tersebut.

“Saya dipanggil dia. Saat mendekatinya, dia langsung memukul kepala serta badan. Sempat berlari untuk menyelamatkan diri, namun dikejar oleh dia. Saya juga sempat dimasukkan ke dalam mobil dan dipukuli lagi,” katanya saat ditemui di RS Siti Khadijah Palembang.

Usai diduga memukul korban, Ipda N langsung kabur meninggal Bripda Ranu sendirian dengan kondisi tubuh yang lemah. Oleh rekan sesama anggota polisi, korban dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan.

Pascainsiden itu, Bripda Ranu memberikan kuasa kepada orangtua kandungnya Ramai Yudin agar melaporkan Ipda N ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKTK Polda Sumsel.

Ramai menyatakan, ia sangat menyesalkan perbuatan Ipda N yang diduga memukuli anaknya hingga harus dirawat di rumah sakit. “Saya harap dengan laporan ini, pelaku dihukum sesuai perbuatannya. Perbuatan dia tidak sesuai, karena dia adalah pemimpin,” katanya.

“Bagaimana, nanti pelaku menjadi Kapolsek, Kapolres bahkan Kapolda pasti dia akan lebih semena – mena terhadap bawahannya, ya kalau anak saya salah silakan dihukum tapi ini anak saya tidak bersalah apa lagi melakukan pelanggaran malah dianiaya,” cetusnya.

Kapolda Sumsel Irjen Pol Zulkarnain Adinegara membenarkan pihaknya telah menerima laporan korban. Ia sangat menyayangi adanya laporan itu, terlebih lagi permasalahan tugas antara atasan dan bawahan.

“Seharusnya bisa dihukuk fisik saja, bukan ditempeleng. Kita lihat nanti, apakah soal etika atau adanya unsur penganiayaan. Pastinya, akan kita proses,” pungkasnya. (yyn).

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.