BANNER Dukung 5m
Banner pemprov Sumsel Vaksin

Dibanding Negara Asia Lainnya, Indonesia Paling Tinggi Stres Akibat Covid-19

 

JAKARTA, koranindonesia.id – Selama masa pandemi Covid-19, persoalan mengenai kesehatan menjadi bagian penting masyarakat. Apalagi, pandemi Covid-19 di Indonesia sudah memasuki usia satu tahun.

Tidak sedikit masyarakat yang merasakan stres akibat tingginya tingkat infeksi dan kematian di Indonesia. Hal tersebut terbukti dari hasil studi yang dikeluarkan oleh The Pulse of Asia – The Health of Asia Barometer.

President Director Prudential Indonesia Jens Reisch mengatakan, sudah satu tahun PT Prudential Life Assurance menghadirkan aplikasi Pulse di Indonesia.

Dalam momentum ini, Prudential Indonesia mengumumkan hasil studi The Pulse of Asia – The Health of Asia Barometer. Studi ini merupakan kolaborasi riset antara Prudential Corporation Asia dan The Economist Intelligence Unit.

Studi melibatkan 5.000 orang dewasa di 13 pasar di Asia antara Agustus dan September 2020.

Riset tersebut mengungkap berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat Asia termasuk Indonesia. Salah satunya dalam meningkatkan kesehatan dan memanfaatkan peran teknologi digital di masa pandemi.

“Studi ini mengungkap keterbatasan finansial serta akses ke fasilitas kebugaran dan olah raga menjadi tantangan terbesar bagi masyarakat di Asia. Termasuk Indonesia, dalam upaya meningkatkan kesehatan mereka selama setahun ke depan,” kata Jens Reisch, melalui keterangan tertulisnya belum lama ini.

Kehadiran Pulse di Indonesia bersamaan dengan merebaknya pandemi Covid-19. Menurut hasil studi tersebut, ada dampak kesehatan mental dan emosional masyarakat Indonesia.

Dibandingkan dengan negara di Asia lain, responden di Indonesia paling banyak merasakan stres akibat Covid-19. Hal ini karena tingginya tingkat infeksi dan angka kematian di Indonesia.

“Meskipun memiliki tingkat stres yang tinggi, masyarakat Indonesia justru terdorong untuk hidup lebih aktif agar sehat.

Hanya 11% responden dari Indonesia, lebih sedikit dibanding rata-rata di Asia (sebesar 21,6%), yang tidak melakukan upaya apa pun untuk meningkatkan kesehatan mereka,” kata Jens Reisch.

Sementara itu, mayoritas (42,9%) responden Indonesia melakukan dua upaya untuk meningkatkan kesehatan mereka, lebih tinggi dari rata-rata mayoritas Asia (30,9%) yang menjawab hal sama.

Masih dalam studi yang sama, peran teknologi digital akan semakin besar untuk membantu meningkatkan kesehatan masyarakat Indonesia.

Mayoritas atau 67% responden di Indonesia mengatakan, aplikasi kesehatan mobile bermanfaat bagi mereka untuk mendapatkan informasi seputar kesehatan.

Sebanyak 68,7% responden Indonesia akan menggunakan lebih banyak teknologi kesehatan digital pribadi selama tiga tahun ke depan untuk meningkatkan kesehatan.

Jens Reisch menambahkan, pihaknya terus berupaya mewujudkan aspirasi dalam membantu masyarakat hidup lebih sehat dan sejahtera agar bisa mendapatkan yang terbaik dalam hidupnya.

“Aplikasi mobile Pulse yang kami luncurkan tahun lalu menjadi bagian dari strategi mewujudkan aspirasi tersebut dan juga menjawab tantangan kesehatan serta membantu menjembatani kesenjangan perlindungan kesehatan di Indonesia,” kata Jens Reisch.

Sementara itu, dr. Dian Budiani, Chief Operations and Health Officer Prudential Indonesia mengatakan, ada semangat serta optimistis yang besar dari masyarakat Indonesia untuk hidup lebih sehat.

“Aplikasi ini dapat membantu mencegah datangnya penyakit dan menunda penyakit semakin buruk,” katanya.

Dia menjelaskan, aplikasi mobile ini menyediakan dukungan menyeluruh di setiap tahap perjalanan kesehatan, Pulse memudahkan pengguna dalam mendapatkan dan bertukar informasi tentang kesehatan, memeroleh gambaran umum tentang kondisi kesehatan serta pemahaman lebih baik tentang gejala penyakit. (Red)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.