Banner Pemprov 2020
Banner 23 September

Di Ciamis, Wamenag: Sejak Zaman Perjuangan, Santri Cinta NKRI

Ciamis, koranindonesia.id – Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa’adi mengungkapkan, bahwa kaum santri sejak zaman perjuangan kemerdekaan telah memiliki kecintaan yang besar bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Hal ini diungkapkan Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa’adi saat berdialog dengan 500an santri Pondok Pesantren Darul Ma’arif Ciamis, Jawa Barat.

“Kita kenal misalnya Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Cut Nyak Dien, dan sebagainya. Mereka adalah tokoh agama, ulama, kyai, ajengan yang rela berjuang untuk kemerdekaan,” ungkap Wamenag, Sabtu (29/08).

Wamenag pun mengungkap peran para tokoh pesantren dalam mempertahankan kemerdekaan RI. Salah satunya Fatwa Resolusi Jihad yang dikeluarkan KH Hasyim Asy’ari yang kemudian berdampak pada terusirnya tentara Sekutu dari bumi Indonesia.

“Kalau bukan karena peran para Kyai dan santri saat itu, sulit rasanya mempertahankan kemerdekaan. Berkat fatwa resolusi jihad yang dikeluarkan, kyai dan santri yang tersebar di seluruh Pulau Jawa kemudian berkumpul untuk mengusir Sekutu,” tuturnya.

“Peristiwa ini yang kemudian selalu kita peringati setiap tanggal 10 November sebagai hari pahlawan. Ini sebenarnya untuk mengenang jasa para syuhada, para kyai, para santri yang gugur pada saat itu,” lanjut Wamenag dikutip dari kemenag.go.id.

Peran para santri pun menurutnya terus berlanjut di masa saat ini. “Sudah banyak orang-orang yang dulunya belajar di pesantren, sekarang sudah banyak yang berhasil menjadi pemimpin di negeri ini,” ujar Wamenag.

“Anda semuanya sebagai santri, jangan merasa minder. Jangan kecil hati. Karena bukan saja sudah terbukti pesantren menghasilkan pintar, cerdas, tapi juga generasi yang berakhlak mulia,” pesan Wamenag.

Bahkan Wamenag mengungkapkan, hingga hari ini dirinya adalah seorang santri. Menurut Wamenag, salah satu kebanggaan menjadi santri adalah kemauannya untuk terus menuntut ilmu dan belajar.

“Saya, selamanya adalah santri. Dengan demikian, saya tidak akan berhenti belajar. Saya niscaya akan menjadikan budak, bagi siapa pun yang mengajarkan (ilmu pengetahuan) kepada saya meskipun hanya satu huruf saja,” kata Wamenag.

“Ini sesuai dengan ungkapan Syayidina Ali, man ‘allamani harfan sirtu lahu ‘abdan,” imbuhnya.

Hadir mendampingi Wamenag, Kakanwil Kemenag Jabar Adib, Direktur Bina KUA Muharram Marzuki, dan Direktur KSKK Madrasah A.Umar.

Wamenag juga menyampaikan rasa bahagianya dapat menghadiri peringatan Milad Ke-10 Pondok Pesantren Darul Ma’arif binaan KH Kusoy ini. “Saya sebenarnya berangkat dari Jakarta sejak subuh hari, kemudian menghadiri bermacam agenda yang cukup padat dan melelahkan sebelum tiba di sini,” ungkapnya.

“Namun, begitu saya tiba di sini dan melihat kehadiran adik-adik rasanya kelelahan saya hilang semuanya. Badan saya menjadi segar,” tuturnya dengan wajah sumringah.

Ia mengungkapkan ketika dirinya masuk di lingkungan pesantren, ibarat ikan menemukan air. “Ikan bila bertemu air, tentu dia akan senang. Karena dia berada dalam lingkungannya, dia berada dalam tempatnya,” tuturnya.

(MT)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.