Banner Pemprov Agustus

Demo Mahasiswa di Palembang Berakhir Ricuh

PALEMBANG, koranindonesia.id – Demo mahasiswa yang berasal dari aliansi organisasi bernama Cipayung Plus Kota Palembang berakhir ricuh di Simpang V DPRD Sumsel, Senin (11/4/2022) siang.

Berdasarkan pantauan di lapangan, sekitar pukul 14.00, kericuhan terjadi saat mahasiswa hendak membakar simbolis keranda mayat. Namun, dihalau oleh aparat kepolisian yang berjaga.

Petugas pun memadamkan api dengan menyemprotkan APAR (alat pemadam api ringan) ke api yang telah membakar simbolis keranda mayat. Hal itu, membuat mahasiswa lari kocar-kacir.

Namun dari arah belakang, massa melempari petugas dengan batu, kayu, dan botol air mineral. Petugas tidak membalasnya, hingga keadaan kembali kondusif dan mahasiswa melanjutkan orasinya.

Dalam orasinya, mahasiswa mengajukan beberapa tuntutan kepada anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumsel yang diantaranya menolak isu penundaan pemilu dan perpanjangan masa jabatan presiden 3 periode.

“Tadi adik-adik mahasiswa sudah pulang karena saya berjanji akan membawa ini besok ke pusat. Tetapi kenapa adik-adik mahasiswa tak mau pulang,”kata Ketua DPRD Sumsel Anita Noeringhati.

Usai berdialog tiba-tiba massa mahasiswa ingin menerobos pagar berduri. Bentrok tak terhindarkan hingga pukul 17.00. Lalu terlihat polisi berpakaian bebas menyusup hingga menangkap 8 mahasiswa.

Mereka diduga sebagai provokator hingga bentrok berkali-kali pecah di setiap sudut lokasi. Penangkapan itu ternyata berdampak aksi berhasil dibubarkan polisi.

“Terpaksa ada mahasiswa yang kita amankan karena menjadi provokator. Sebab saat massa berhasil mundur mereka yang mengajak massa untuk kembali melakukan aksi,”kata Kapolrestabes Palembang Kombes Pol Mokhamad Ngajib

Diakuinya 8 provokator masih diamankan hanya untuk dimintai keterangan. Terkait aksi mahasiswa, dia menilai tergolong masih kondusif.

“Masih kondusif soalnya kita tadi mau menembakan gas air mata. Namun tidak jadi,” tegasnya.

Untuk diketahui, ada dua pergerakan massa yang berdemo di depan Gedung DPRD Sumsel. Pertama dilakukan dari BEM UIN dan BEM Muhammadiyah. Keduanya telah membubarkan diri sebelum massa dari Cipayung Plus Kota Palembang tiba di lokasi.

Bahkan tuntutan keduanya, telah diterima dan ditandatangani langsung oleh Ketua DPRD Sumsel Anita Noengrihati. Selanjutkan akan dibawa ke DPRP Pusat. (depe)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.