Banner sumsel

Debat Putaran 2, Capres Harus Angkat Isu Infrastruktur Pertanian

JAKARTA,koranindonesia.Id-Kedua pasangan Capres-Cawapres  diharapkan mengangkat isu infrastruktur pembangunan pertanian dalam debat putaran kedua yang akan berlangsung Minggu (17/02/2029).

Managing Director Political Economy and Policy Studies, Anthony Budiawan mengatakan infrastruktur pembangunan pertanian sangat penting dikemukakan dalam debat capres. Sebab, infrastruktur pertanian menjadi salah satu cara untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani sebagai pelaku utama pembangunan pertanian.

Dikatakannya bagaimana meningkatkan kesejahteraan petani, salah satunya yang harus disoroti infrastruktur pertanian yang harus berjalan. Dengan begitu, produktivitas pertanian otomatis juga akan meningkat dan berdampak pada pendapatan petani. Katanya dalam membangun infrastruktur pertanian, pemerintah jangan melulu memfokuskan pembangunan hanya di Pulau Jawa.

“Pemerintah juga harus membangun infrastruktur pertanian di wilayah luar Jawa yang sudah memiliki sistem irigasi. ” ungkapnya saat diskusi, di Jakarta, Kamis (14/02/2019).

Terlebih, banyak lahan pertanian di luar Jawa yang perlu didukung dengan sistem pengairan yang baik. Dengan infrastruktur yang disediakan pemerintah, petani tidak lagi terbebani oleh biaya yang terlalu tinggi karena harus membangun sistem irigasi sendiri.

“Di daerah pegunungan tidak ada sama sekali irigasinya. Mereka harus pakai sumur bor dan itu bayar. Bukan pemerintah yang subsidi, harusnya pemerintah yang menyediakan infrastruktur,” terangnya.

Selain dengan infrastruktur, produktivitas pertanian juga dapat ditingkatkan dengan penggunaan lahan selain tadah hujan agar waktu tanam lebih banyak dan produksi berlimpah. Ada pun saat ini Kementerian Pertanian tahun ini memfokuskan optimalisasi lahan rawa menjadi lahan sawah yang produktif dengan target mencapai 500.000 hektare.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan optimalisasi lahan rawa akan dilakukan di lima provinsi, yakni Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan dan dua wilayah baru tambahan di Bengkulu dan Jambi.

“Dengan penggunaan bibit yang sesuai dengan lahan rawa, produktivitas padi diyakini bisa meningkat sampai tiga kali lipat, yakni dari dua ton per hektare menjadi 6 ton per hektare dan waktu tanam maksimal tiga kali setahun,” tandasnya. (Erw)

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.