Dampak Kemarau dan Kabut Asap, Ribuan Warga Palembang Terjangkit ISPA

PALEMBANG, koranindonesia.Id – Musim kemarau dan kabut asap yang melanda Kota Palembang berdampak buruk pada kesehatan. Hingga pekan pertama Oktober ini, penderita Infeksi Saluran Pernapasan (ISPA)  di Kota Palembang tercatat 9.510 orang dengan rincian balita 3.756 dan dewasa 5.754 orang.

Berdasarkan catatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Palembang, penderita ISPA balita di Oktober ini meningkat drastis  jika dibandingkan dengan September lalu, dimana penderita ISPA  untuk Balita hanya 3.615 orang dan dewasa 6.749 orang.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Palembang dr Letizia menghimbau kepada masyarakat untuk tetap waspada terhadap penyakit ISPA. “ISPA bisa menjakiti siapa saja, tidak hanya orang dewasa tapi juga balita,” katanya, Jumat (5/10/2018).

Letizia mengatakan, saat ini ISPA masih banyak ditangani  Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). “Polusi udara ketika panas terik menjadi salah satu penyebab utama ISPA. Kami menghimbau agar masyarakat selalu menjaga lingkungan sekitar agar tetap bersih. Termasuk mereka yang memiliki banyak aktivitas di luar ruangan,” katanya.

Menurutnya, penyakit ISPA disebabkan oleh virus. Sedangkan gejala ISPA ini bisa diketahui seperti, sering bersin, hidung tersumbat, paru-paru terasa terhambat, kerap kelelahan dan timbul demam serta tubuh terasa sakit.

“Apabila ISPA sudah dalam tahap lebih serius itu akan muncul seperti pusing, kesulitan bernapas, demam tinggi dan menggigil, tingkat oksigen dalam darah rendah, kesadaran menurun bahkan bisa pingsan,” terangnya.

Menurutnya, ada beberapa cara untuk mencegah penyakit ISPA ini. Diantaranya, cuci tangan setelah beraktivitas umum, hindari menyentuh bagian hidung, mulut, mata agar terlindung dari penyebaran virus atau bakteri, hindari merokok. Selain itu perbanyak makan serat vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh, ketika bersin tutup pakai tisu atau tangan dan olahraga secara teratur untuk kekebalan tubuh.

“Ada baiknya juga harus menghindari banyak-banyak aktivitas di luar, kalau pun harus boleh pakai masker atau sapu tangan. Tentunya harus juga banyak minum air putih,” terangnya.

Letizia menambahkan, dari Dinkes sendiri, sejauh ini pihaknya juga gencar melakukan sosialisasi. Termasuk bagaimana gejala awal ISPA yang timbul biasanya berupa batuk pilek, yang kemudian diikuti dengan napas cepat dan napas sesak. Pada tingkat yang lebih berat terjadi kesukaran bernapas dan tidak dapat minum. (Iya)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.