Banner sumsel

Bule Belanda Akui Nikmatnya Kopi ‘Organik’ Lahat

LAHAT,  koranindonesia.Id – Pakar kopi organik asal Belanda dari Programma Uitzending Manajer (PUM) Senior Expert mengunjungi kebun kopi di Kabupaten Lahat. Dari kunjungannya itu, Bernard Gildemacher mengakui kenikmatan kopi Lahat. Apalagi setelah menyicipi kopi robusta organik di Desa Sumber Karya, Kecamatan Gumay Ulu, Lahat.

Didampinngi pemerhati wisata dan budaya Lahat Mario “Maryoto” Andramatik, Bernard sapaan akrabnya mengaku bahwa kopi organik cukup nikmat dibanding kopi organik yang dicicipi sebelumnya.

Dirinya sendiri pernah mencicipi kopi organik di Uganda dan Myanmar. Tak hanya itu, dirinya juga pernah mencicipi kopi robusta dari Ghana. “Tha coffee taste better,” ungkap Bernard, Sabtu saat ditemui di kebun kopi organik Desa Sumber Karya, Sabtu (3/11/2018).

Sementara disinggung apakah kopi Lahat bisa tembus pasar internasional, Bernard mengaku bisa.  Namun kualitas terbaik pasar internasional, menurutnya kopi asla Brazil dan Kolumbia.

Bernard datang ke Lahat sebelumnya melalui tawaran dari Mario Andramatik, dari Panoramic of Lahat. Selenjutnya, pakar kopi organik ini datang ke Lahat dan sempat  mengunjungi kebun kopi di Kecamatan Kota Agung, Kecamatan Gumay Ulu serta Megalitikum di Gumay Ulu.

Di Kecamatan Gumay Ulu, Bernard langsung berbincang dengan petani dan penyuluh pertanian setempat. Dirinya berharap agar proses dari penanaman hingga penjamuran benar- benar diperhatikan oleh petani. Khusus untuk organik memang SOP harus dilaksanakan. Dia menyarankan agar secara bertahap penyuluh memberikan edukasi kepada petani secara bertahap hingga akhirnya menjadi kebiasan.

Sementara Suharsono, Pendamping Desa Organik sekaligus Penyuluh THL TBPP (Tenaga Harian lepas Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian), Kementrian Pertanaian mengaku melakukan pendampingan kebun kopi desa organik ini sejak 2016 lalu. Berawal dari program Nawacita Presiden untuk melalukan pendataan calon petani kebun kopi organik, kelompok tani Bhineka Tunggal Ika, Desa Sumber Karya, Kecamatan Gumay Ulu, Lahat kemudian diusulkan. Selanjutnya dilakukan pengecekan oleh pihak Badan Standarisaai Nasional guna menuju sertifikasi kopi organik. “Saat ini ada 21 petani dengan luas lahan 16,75 ha,” ujar Suharsono.

Sambungnya, tahun 2019 akan dilakukan penilaian. Bila berhasil maka akan keluar sertifikat kopi organik.

Kebun kopi organik yang dilakukan masyarakat, diceritakannya berawal dari pemanfaatan sumber daya yang ada seperti kotoran ternak serta masalah ekonomi yang tak mempu membeli pupuk maupun racun, sejak tahun 2002 lalu. Sehingga dilakukan secara organik seperti penyiangan kebun dan lainnya.

Sejauh ini, kebun kopi desa organik telah memproduksi biji kopi untuk dijual kepasaran. Namun untuk pemesanan masih belum ramai, terutama khusus untuk petik merah kopi organik.

Pihaknya sendiri berharap ketika sudah keluar sertifikasi, harga dan pasar kopi organik sudah jelas. “Karena untuk pembinaan petik merah, cara pengeringan dan lainnya sudah diketahui petani. Hanya saja harus ada pasar yang jelas dan harga yanh sesuai,” ungkapnya. (Sfr)

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.