Banner sumsel

Buaya Milik Usaha Penangkaran Diduga Lepas, Warga Desa Payalingkung Resah

INDRALAYA,koransumatera.com – Anggota DPRD Ogan Ilir (OI) berang, pasalnya perusahaan penangkaran buaya laut PT Vista Agung Kencana di Desa Payalingkung Kecamatan Lubuk Keliat yang menangkarkan 4.477 ekor buaya, tiga ekor diantaranya yang berumur  4 tahun diduga lepas dan keberadaannya  sangat meresahkan masyarakat.

Selain mengancam hewan ternak sapi, lepasnya buaya dari penangkaran itu juga membuat warga takut mancing dan mandi  di rawa, karena khawatir dimangsa buaya tersebut.

Terkait keluhan warga itu, anggota DPRD OI mendatangi areal penangkaran, Selasa (13/2) mereka adalah anggota Fraksi Golkar Irwan Noviatra, Basri M Zahri dan Anggota Fraksi PAN Mulyadi, tampak  mendampingi anggota dewan itu Kadis Perikanan Tarmuzi.

Ketua Fraksi Golkar Irwan Noviatra menyayangkan dibangunnya penangkaran buaya tidak jauh dari pemukiman  warga itu, mirisnya lagi banyak warga yang tidak mengetahui keberadaannya. Apalagi selama  lima tahun  berdiri usaha penangkaran buaya itu tidak pernah membayar PBB dan IMB dengan kisaran Rp200 juta, sedangkan untuk perizinan diduga bermasalah.

Selain itu perusahaan tidak ada komunikasi dengan masyarakat sekitar, bahkan humas perusahaan tersebut tidak mau bertemu dengan anggota dewan.

“Wajar kalau saya marah, perusahaan ini tidak beres, bermasalah, warga dirugikan, bahkan tidak kooperatif sampai buaya diduga ada yang lepas dan meresahkan, warga pun takut kena gigit. Kalau begini caranya bukan tidak mungkin kita rekomendasikan ditutup saja,” tegas Irwan Noviatra.

Hal senada dikatakan Anggota DPRD OI lainnya  Basri M Zahri, dia mengaku miris melihat penangkaran buaya tersebut. “ Bayangkan kalau buayanya lepas, bisa habis warga di kecamatan. Memang perusahaan ini tidak bersahabat dengan masyarakat,  kalau begitu kita rekomendasikan saja untuk ditutup. Apalagi diduga ada buaya yang lepas, kalau sampai ada warga yang terluka mereka harus bertanggungjawab dan ini wajib ditindaklanjuti, “ujarnya.

Sementara Kades Payalingkung Misriyadi mengatakan pihak perusahaan sangat tertutup dengan warga. “Saya saja baru sekali ini masuk, mereka tidak kooperatif, staf pekerjanya saja minim. Kabarnya kulit buaya ini untuk dibuat tas dan sebagainya,” jelasnya.

Menanggapi hal itu GM Manager Pam Buaya PT Vista Agung Kencana Joko mengakui jika ada 4477 ekor buaya laut sampai November tahun 2017. “Kita ada izin dari Kementerian Kehutanan di Jakarta, pengembangan budidaya buaya ini tidak cuma disini ada juga di Medan, Pontianak, Serang, Tangerang. Kalau soal perizinan, papan reklame, bayar pajak, CSR saya tidak mengerti, kalau teknis pemeliharaan, evakuasi buaya bagian saya, Kalau buaya ada yang lepas saya belum tahu karena belum monitor,” jelasnya.

Ditempat yang sama Kadis Perikanan Pemkab OI Tarmuzi mengatakan jika ada buaya peliharaan perusahaan yang lepas itu sangat keterlaluan dan merupakan keteledoran karena membahayakan masyarakat dan perusahaan harus ditindak untuk diberikan sanksi.

Reporter: Sanditya Lubis

Editor : elan

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.