Banner Pemprov 17 Agustus

BPN Laporkan Temuan 17,5 Juta DPT Tidak Wajar di Pemilu 2019

JAKARTA, koranindonesia.id – Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno beserta partai politik koalisi melaporkan temuan 17,5 juta Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang dinilainya tidak wajar pada pelaksanaan Pemilu 2019, ke KPU RI.

Direktur Komunikasi dan Media BPN Prabowo-Sandi, Hashim Djojohadikusumo mengatakan, sebelumnya pihaknya telah bertemu dengan Komisioner KPU untuk melaporkan temuan tersebut secara lisan. “Kami sampaikan beberapa keprihatinan kami mengenai keutuhan dan integritas daripada DPT. Hal ini kami sudah sampaikan sejak 15 Desember lalu, kami sampaikan secara lisan dan disusul dengan laporan resmi tertulis kepada KPU RI,” kata Hashim di Kantor KPU RI, Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat, Senin (11/3/2019).

Hashim mengungkapkan, berdasarkan temuan dari IT BPN setidaknya ada 17,5 juta nama di DPT masih belum tervalidasi dengan baik dan benar. Karena itu, pihaknya mendorong KPU sebagai lembaga penyelenggara pemilu, untuk segera memperbaikinya agar dapat menghasilkan pemilu yang jujur dan berkualitas. “Kami sudah meminta komitmen KPU yang berjanji akan memperbaiki dan merevisi adanya perubahan DPT. Dan semua masyarakat harus sama-sama mengawal, agar kedepan tidak ada manipulasi data ganda,” ujar Hashim yang juga Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra ini.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua DPP Partai Gerindra sekaligus Wakil Ketua Komisi II DPR RI, Ahmad Riza Patria menambahkan, dalam waktu dekat pihaknya juga akan menemui Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).

Pasalnya, berdasarkan laporan KPU, DPT ganda yang ditemukan BPN berasal dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten (Dukcapil) Kemendagri. “Ini tadi sudah kami pertanyakan kepada KPU dan menurut KPU, data inilah yang diterima dari Dukcapil Kemendagri. Nanti kami cari waktu untuk temui Kemendagri dan Dukcapil untuk minta klarifikasi, terhadap data yang kami anggap tidak wajar itu,” beber Riza.

Riza menambahkan, temuan DPT tidak wajar diantaranya adalah, nama-nama yang masuk DPT terindikasi fiktif. “Itu diantaranya bertanggal lahir 1 Juli 9,8 juta. Ada yang lahir 31 Desember sekitar 3 juta sekian, yang lahir 1 Januari ada 2,3 juta sekian. Ini yang kami anggap tidak wajar,” pungkas Riza.

(mar)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.