BNN Minta Kemenkumham Tiadakan Tamping

PALEMBANG, koranindonesia.id – Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel) meminta Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) Sumsel untuk meniadakan program tahanan pendamping (tamping) di tiap lembaga pemasyarakatan (lapas) yang ada.

Alasannya, pihak BNNP Sumsel menemukan, masih adanya sindikat narkotika yang mengendalikan bisnis haramnya dari dalam lapas dengan memanfaatkan keleluasaan sebagai tamping, yang notabene memiliki kelonggaran-kelonggaran lebih dibandingkan tahanan lainnya, sekaligus memiliki kedekatan dengan para sipir.

Hal ini diungkapkan Kepala BNN Provinsi Sumsel Brigjen Pol Drs Jhon Turman P saat menggelar pemusnahan barang bukti narkoba jenis sabu dan ekstasi di Kantor BNNP Sumsel, Rabu (6/6/2018).

Dijelaskan Kepala BNNP Sumsel, peredaran narkotika berupa sabu sebanyak 3 bungkus besar seberat 2.2991,25 gram dalam kemasan bertuliskan Guanyinwang dan 5 bungkus kacang yang berisi 5.000 butir pil ekstasi dengan netto 1.511,54 gram dalam mobil jenis Toyota Calya warna merah dengan nomor polisi B 1262 UIK yang dikendarai tersangka Iskandar dan kawan-kawan di kawasan pinggir Jalan Tanjung Api Api (TAA), Kecamatan Muara Telang, Kabupaten Banyuasin tersebut, dikendalikan dari dalam lapas Muaraenim oleh salah satu tahanan bernama Davit Haryono alias Ono, yang berstatus tamping.

“Davit Haryono adalah yang menggerakan orang lain di Muara Beliti. Ono yang mengendalikan Y dan A. Kita akan terus selidiki kasus ini,” ucapnya.

Ditambahkan Jhon,  dari dalam sel tahanan pihaknya juga mendapatkan data, jika tersangka Ono ini, memiliki kedekatan dengan sipir dan bisa dengan leluasa melakukan apa saja, karena statusnya sebagai tamping tersebut.

“Kita sarankan ke Kanwil Kemenkumham agar tamping ini ditiadakan. Karena setiap hari tamping berhadapan dengan sipir dan memiliki kedekatan dengan sipir. Tamping ini diberikan keleluasaan pengendalian di lapas. Kalau masih ada tamping di lapas, narkoba masih akan terus beredar di lapas. Ini bukti dan fakta yang ada,” paparnya pula.

Masih menurut Jhon Turman P, berdasarkan keterangan tersangka Iskandar pula diketahui, jika barang bukti narkotika jenis sabu dan ekstasi tersebut diperoleh dari seseorang warga Batam bernama Hendra Wijaya (alm). Tersangka Iskandar disuruh M Yusuf alias Jon sebagai perantara jual beli narkoba jenis sabu di Jalan TAA.

“Menurut keterangan Iskandar sudah dua kali jadi perantara jual beli narkotika. Menurut keterangan tersangka Iskandar pula barang bukti narkotika ini sedianya akan diantarkan kepada kaki tangan Davit Haryono alias Ono di Kota Lubuklinggau,” imbuhnya.

Selain Iskandar, lanjut Jhon, juga diamankan Heni Restiawati, Peri Haryanto, Subhan alias Ojing dan Davit Haryono. Hadir di acara pemusnahan barang bukti ini diantaranya Kepala KPPCBC Tipe Madya Pabean B Palembang Meidy Kasim, AKBP Minal Alkahri (perwakilan dari Ditresnarkoba Polda Sumsel), perwakilan Kejati Sumsel, perwakilan Pengadilan Tinggi Palembang.(win)

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.