BKKBN akan Berpartisipasi dalam Foreign Policy and Global Health Forum 2020

 

JAKARTA, koranindonesia.id — Kepala BKKBN Hasto Wardoyo, Sp.OG(K) menerima audiensi dari Direktur Sosial Budaya dan Organisasi Internasional Negara Berkembang (OINB), Kamapradipta Isnomo, di Kantor Pusat BKKBN, Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Hadir dalam kesempatan tersebut, Deputi Bid. Pelatihan, Penelitian dan Pengembangan BKKBN Rizal M Damanik; Sekretaris Utama BKKBN Nofrijal; Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan KB BKKBN Lalu Makripuddin.

Audiensi tersebut dalam rangka rencana penyelenggaraan Forum Foreign Policy and Global Health (FPGH). Direktur Sosial Budaya dan Organisasi Internasional Negara Berkembang (OINB), Kementerian Luar Negeri, Kamapradipta Isnomo mengungkapkan, ”Forum pertemuan menurut rencana akan diselenggarakan di Bali pada Juli 2020, tahun ini Indonesia merupakan Ketua Forum tersebut, kami mengundang BKKBN untuk berpartisipasi dalam kegiatan ini.”

“Pertemuan ini merupakan upaya membangun jejaring dan kerja sama yang lebih erat antara sektor publik maupun privat guna membantu pencapaian ketersediaan layanan kesehatan yang terjangkau,” tambah Kamapradipta.

Forum Foreign Policy and Global Health (FPGH) tahun 2020 mengusung tema, “Affordable Health Care for All”. Layanan kesehatan yang terjangkau adalah kunci bagi tercapainya Cakupan Kesehatan Semesta (Universal Health Coverage) yang merupakan prioritas nasional dan global saat ini.

Kepala BKKBN Hasto Wardoyo, Sp.OG(K) menyampaikan, “Kami senang dengan spirit forum ini yakni mengedepankan universal health coverage, dan berterimakasih untuk memberikan kesempatan bagi BKKBN turut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.”

Indonesia menjadi Ketua forum Foreign Policy and Global Health (FPGH). Yakni kelompok negara FPGH yang dibentuk di tahun 2007 setelah pertemuan di Oslo antara tujuh negara, yaitu Afrika Selatan, Brazil, Indonesia, Perancis, Norwegia, Senegal dan Thailand. Forum ini bertujuan mempromosikan pentingnya isu kesehatan global dalam kerangka kebijakan luar negeri.

Direktur Sosial Budaya dan Organisasi Internasional Negara Berkembang (OINB), Kementerian Luar Negeri, Kamapradipta Isnomo menjelaskan, “Kami mengharapkan partisipasi dan dukungan dari BKKBN pada kegiatan capacity building, kami mengundang perusahan alat kesehatan, alat kontrasepsi dan vaksin yang tujuannya agar perusahaan dalam negeri dapat memproduksi bisa di ekspor keluar negeri, pada sesi ini kami kerjasama dengan WHO agar dapat memberikan pemahaman terkait sertifikasi alat kesehatan, kontrasepsi dan vaksin.” Jelas Kamapradipta.

Kepala BKKBN Hasto Wardoyo, Sp.OG(K) menyampaikan, “BKKBN akan mendukung kegiatan tersebut, kami juga berharap ada perusahan dalam negeri baik BUMN atau swasta yang mampu memproduksi misalnya vaksin kanker serviks, karena kanker seviks di Indonesia masih cukup tinggi padahal bisa dicegah dan salah satu upayanya melalui vaksin.”

“Dalam kegiatan capacity building saya harap Kemenlu dapat melibatkan perguruan tinggi karena ada beberapa perguruan tinggi misalnya Universitas Airlangga yang telah melakukan penelitian terkait pil KB pria dari tanaman gandarusa,” tambah Hasto.

Kepala BKKBN Hasto Wardoyo, Sp.OG(K) mengungkapkan, “Indonesia telah menjadi centre of excelence terkait program KB bagi negara lain beberapa negara sudah hadir untuk belajar KB dari Indonesia, keberhasilan penurunan TFR dalam kurun waktu 25 tahun menjadi success story yang menarik banyak negara, dan saat ini kita pada periode mempertahankan TFR, dilansir bkkbn.go.id, bahwasanya melalui forum ini saya harap kita dapat bertukar informasi dengan negara lain terkait Pembangunan, Kependudukan, KB dengan negara seperti Norwegia atau Brazil,” ungkap Hasto.

Pertemuan FPGH merupakan upaya membangun jejaring dan kerja sama yang lebih erat antara sektor publik maupun privat guna membantu pencapaian ketersediaan layanan kesehatan yang terjangkau dalam kerangka FPGH. Hal ini sejalan dengan Visi Presiden RI 2019-2024 yang mengedepankan pembangunan sumber daya manusia dengan memperhatikan unsur kesehatan serta pentingnya peningkatan arus investasi, perdagangan, dan perluasan tenaga kerja.(OFI)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.