Berkas Dilimpahkan ke Jaksa, Tersangka Kekerasan di SMA Taruna Tetap Bantah  

PALEMBANG, Koranindonesia.id – Setelah dinyatakan lengkap, penyidik Satreskrim Polresta Palembang langsung melimpahkan berkas, barang bukti dan tersangka Obby Frisman Arkataku (24) ke Kejaksaan Negeri Palembang, Kamis (10/10/2019).

Namun saat dimintai keterangan oleh jaksa penuntut umum saat proses pelimpahan tahap dua tersebut, Obby tetap membantah tudingan tindak kekerasan yang menewaskan korban Delwyn Berli Juliandro (14) saat megikuti Masa Orientasi Siswa di SMA Taruna Indonesia beberapa waktu lalu.

 

Kepada tim jaksa Obby yang berstatus pembina dalam kegiatan MOS di SMA Taruna Indonesia tersebut mengaku bahwa sebelum tewas korban sempat mengalami kesurupan hingga akhirnya membenturkan tubuh dan kepalanya sendiri.

 

Hal itulah menurutnya yang mengakibatkan korban mengalami luka, termasuk pada baguan kepala hingga akhirnya meninggal dunia. “Saat itu suaranya seperti nenek-nenek. Korban bilang tolong aku,” ujarnya dihadapan tim jaksa Kejaksaan Negeri Palembang.

 

Obby menjelaskan, saat kejadian itu, dirinya ke pinggiran anak sungai yang tak jauh dari sekolah. Saat itu, ia melihat korban duduk di pinggir anak sungai dan ketika didekati korban meminta tolong.

 

Merasa kebingungan, Obby sempat ingin lari dari tempat itu untuk meminta bantuan kepada orang lain. Namun dilarang oleh korban yang saat itu sudah seperti orang kesurupan.. “Terus dia pindah ke tumpukan seng di pinggir sungai. Selanjutnya dia menghempaskan badannya sendiri, kepalanya juga dibenturkan. Saya sama sekali tidak memukulnya,” paparnya.

 

Kepala Kejaksaan Negeri Palembang Asmadi melalui Kasi Pidum Yuliati Ningsih membenarkan bahwa pihaknya telah menerima pelimpahan berkas tahap dua dengan tersangka Obby Frisman Arkataku.

 

“Tim jaksa memiliki waktu 20 hari kedepan untuk menyiapkan surat dakwaan sebelum berkasnya dikirim ke Pengadilan. Tapi biasanya sebelum akhir waktu itu melakukan pelimpahan dan kemudian tinggal menunggu jadwal persidangan,” katanya.

 

Terkait bantahan yang disampaikan tersangka, Yuli menyebut bahwa hal itu merupakan hak tersangka. Namun pihaknya memiliki minimal dua alat bukti dan saat ini tersangka dijerat Pasal 80 ayat 3 Nomor 17 tahun 2016 tentang perlindungan anak. (sup)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.