Banner sumsel

BAHASA INDONESIA DALAM REVOLUSI 4.O

Dr. Darwin Effendi, M.Pd.
Dosen Universitas PGRI Palembang

Bahasa merupakan alat komunikasi yang dipergunakan manusia untuk saling mengenal satu sama lain. Melalui bahasa, ide pemikiran manusia tentang berbagai hal dapat tersampaikan. Sejak peradaban manusia dimulai, bahasa pun telah melekat mengiringi kehidupan manusia. Bahasa merupakan kekayaan yang tak ternilai harganya.

Indonesia dikenal sebagai Negara yang memiliki bahasa daerah yang beragam. Menurut data dari Badan Pengembangan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Indonesia memiliki 652 bahasa daerah (Liputan6.com, 16/8/2018). Hampir setiap daerah mempunyai bahasa daerah sendiri yang tersebar di 34 provinsi.

Untuk menyatukan berbagai bahasa daerah di seluruh wilayah Indonesia, dipergunakanlah bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia menjadi bahasa persatuan yang dapat menjembatani perbedaan penggunaan bahasa di dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia. Selain itu, bahasa Indonesia digunakan sebagai alat pengembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu yang telah lama dipakai sebelum bangsa Indonesia lahir. Bahasa Melayu sudah dipakai sejak lama sebagai bahasa perhubungan dan bahasa perdagangan yang terkenal dengan sebutan lingua franca.

Karena sistem bahasa Melayu sederhana dan mudah dipelajari sehingga suku-suku dari daerah lain dengan sukarela menerima bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional yang menyatukan segala jenis perbedaan bahasa yang ada.

Kemudian, bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia sejak diikrarkannya Sumpah Pemuda dan dikukuhkan dalam Undang-Undang Dasar 1945, Bab XV, Pasal 36, bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi negara.

Dengan demikian, bersyukurlah bangsa Indonesia yang memiliki ratusan bahasa daerah tersebut resmi memiliki bahasa persatuan, yakni bahasa Indonesia.

Bahasa Indonesia yang lahir seiring dengan perjuangan bangsa Indonesia harus kita jaga dan utamakan dalam penggunaannya. Kita tidak ingin seperti Negara lain, sebut saja India yang memilik bahasa Nasional, tetapi tidak mampu menjaga eksistensi bahasa Nasionalnya dan menyatukan ratusan bahasa daerah yang ada di negaranya.

Bangsa India menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa Nasional kedua karena bahasa Hindi sebagai bahasa Nasional tidak mampu sebagai jembatan alat komunikasi masyarakat India yang multi etnik.

Seiring perkembangan zaman menuju dunia global, teknologi pun semakin maju . Apalagi, kini dunia memasuki era Revolusi Industri 4.0.

Revolusi industri keempat melibatkan sistem siber fisik dan melampaui sekadar otomatisasi dan komputerisasi. Kemajuan teknologi memasuki era digital ini berdampak pula dengan komunikasi manusia yang menggunakan bahasa sebagai medianya. Media sosial pun turut meramaikan era disruptif teknologi ini.

Menilik bahasa yang kerap digunakan dalam media sosial, seperti facebook, twitter setidaknya telah membuka pemikiran kita tentang arti pentingnya moralitas bahasa. Maksudnya, bagaimana cara penggunaan bahasa itu tersampaikan, sikap berbahasa dan estetika bahasanya. Moral bahasa menjadi sangat penting dalam pranata sosio-kultural masyarakat.

Tidak sedikit bahasa yang digunakan dalam media sosial (sosmed) begitu memaksakan kata-katanya yang cenderung bermakna kasar. “Saling serang” menggunakan bahasa kerap terjadi dalam komunikasi jejaring sosial.

Gaya bahasa sarkasme pun sering terlontar menyambut lawan bicara di dunia maya ini. Hal ini kalau dibiarkan akan merusak keutuhan berbangsa dan bernegara. Bahkan, memasuki masa pemilihan presiden yang sebentar lagi, para pendukung dan pro kandidat calon presiden pun terkadang saling menelontarkan kata-kata yang bermakna negatif terhadap lawan calon presiden lainnya.

Pengguna bahasa sering tidak memperdulikan kesantunan berbahasa. Padahal, bahasa Indonesia lahir sesuai dengan citra bangsa Indonesia yang sangat menjunjung etika budaya timur. Kesopansantunan dalam bahasa Indonesia sebagai warisan budaya.

Sesungguhnya bahasa memiliki kemampuan untuk meningkatkan kemampuan manusia sampai titik homo humanus, yakni manusia berbahasa dengan jiwa yang halus, mempunyai rasa kemanusiaan, dan berbudaya.

Bangsa Indonesia yang terdiri dari multi etnik ini, maka fungsi bahasa sebagai alat komunikasi dan interaksi antarmasyarakat serta sarana pengungkap perasaan dan pikiran manusia perlu dikembangkan.

Namun, kalau tidak diantisipasi secara seksama, bukan tidak mungkin sisi negatif yang akan muncul dan berkembang sebagai pemicu konflik dan kesalahpahaman seperti yang kerap terjadi di jejaring sosial dewasa ini.

Pengguna bahasa wajib memahami tentang tata cara berbahasa (linguistic etiquete). Seperti yang dinyatakan Nababan (2013:53), bahwa tindak laku berbahasa seseorang itu akan mengikuti norma kebudayaan induknya.

Sistem tindak laku berbahasa itu sering disebut dengan linguistic etiquete yang berkaitan dengan (1) apa yang sebaiknya dikatakan pada waktu dan keadaan tertentu; (2) ragam bahasa apa yang sewajarnya dipakai dalam situasi sosiolinguistik tertentu; (3) kapan dan bagaimana menggunakan giliran berbicara dan menyela pembicaraan orang lain; dan (4) kapan harus diam tidak berbicara.

Sesuai semangat Sumpah Pemuda bahwa bangsa Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia, sudah selayaknya masyarakat pengguna bahasa mengamalkan salah satu butir Sumpah Pemuda tersebut. Jangan sampai karena kebablasan kebebasan berbahasa mengganggu keutuhan bangsa. Selamat Hari Sumpah Pemuda.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.