Banner sumsel

Atraksi Interpersonal Menjelang Pilpres 2019

Pada umumnya, yang dilakukan oleh para politis selalu menghasilkan citra, atau bahkan setiap tindakan yang dilakukannya merupakan tindakan yang sengaja untuk memperoleh citra yang positif. Oleh karenanya, jangan pernah mencoba-coba untuk memberikan pandangan normatif terhadap tindakan-tindakan para politisi tersebut, karena pada akhirnya tindakan tersebut selalu terselip motif untuk membodohi masyarakat.

Seiring berjalannya waktu, ketika para politisi sudah mendapatkan citra bahwa ia adalah politisi yang selalu mengumbar janji, justru mereka tidak akan tinggal diam saja, mereka akan mencari cara agar citra tersebut  menjadi hilang, bahkan para politisi juga akan mencari cara agar masyarakat menjadi lupa terhadap kesalahan fatal tersebut. Salah satunya dengan membangun atraksi interpersonal.

Atraksi Interpersonal Para Politisi Indonesia

Saat ini cara yang sedang menjadi trend bagi para politisi adalah membangun hubungan interpersonal dengan beberapa tokoh yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan politik di Indonesia. Bahkan dengan membangun hubungan interpersonal dengan beberapa tokoh tersebut, akan lebih efektif dibandingkan dengan memberikan propaganda lewat media massa ataupun media sosial. Menurut (Rakhmat, 2011: 109) makin tertarik kita kepada seseorang, makin besar kecenderungan kita berkomunikasi dengan dia. Kesukaan pada orang lain, sikap positif dan daya tarik seseorang, kita sebut sebagai atraksi interpersonal (Atraksi berasal dari bahasa Latin attrahere , ad; menuju, ttrahere ; menarik).

Jadi pada intinya atraksi interpersonal merupakan upaya manusia untuk selalu berkomunikasi dengan manusia lainnya yang mempunyai kesamaan ideologi dengannya. Namun kesamaan ideologi tidak diciptakan dalam sekejap mata, untuk menciptakan kesamaan ideologi perlu adanya upaya untuk menyatukannya. Upaya untuk menyatukan ideologi biasannya ada yang saling tertindas terlebih dahulu ataupun biasanya ada yang sedang mengalami kejayaan terlebih dahulu. Oleh karenanya, atraksi interpersonal para politisi akan terbangun jika mereka mempunyai nasib yang sama.

Saat ini lembaga survei yang selalu mengunggulkan Jokowi dalam perebutan kursi pilpres 2019. Tetapi oposisi Jokowi pun tidak tinggal diam dengan hasil survei tersebut, beberapa oposisi Jokowi justru sedang meracik strategi untuk mengalahkan Jokowi pada pilpres 2019 nanti.

Beberapa cara memang seringkali hanya berakhir nihil, bahkan ketika kehabisan akal Prabowo pun sampai melakukan retorika fiksinya dengan mengatakan bahwa Indonesia akan hancur pada tahun 2030 nanti. Begitupun dengan opisisi yang lainnya, dalih agama pun pada akhirnya tidak bisa mengalahkan dominasi Jokowi pada saat ini.

Kendati demikian, karena bernasib sama, di mana mereka sama-sama tertindas oleh komunikasi politik Jokowi, mereka pun saling membangun atraksi interpersonal. Misalnya saja Prabowo yang sedang mencoba membangun atraksi interpersonal dengan Rieziq Shihab, tentunya jika cara ini berjalan dengan efektif maka tidak menutup kemungkinan Prabowo akan memenangi pertarungan politiknya dengan Jokowi. Karena ketika Rieziq Shihab mengatakan kepada semua umatnya di Indonesia bahwa mereka harus menyoblos Prabowo, maka tentu saja Jokowi pun akan kalah telak.

Jokowi memang belum pernah memperlihatkan tendensi politiknya, maka atraksi interpersonal Jokowi pun belum terbangun dengan baik. Hanya saja yang berupaya untuk membangun atraksi interpersonal dengan Jokowi adalah Muhaimin (Cak Imin)  dan Romahurmuziy (Gus Rommy), walaupun itu hanya sebatas wacana yang belum final.

Oleh karenanya, jika bangsa ini ingin maju, maka jangan jadikan Indonesia ladang  untuk menanam benih pencitraan politik dengan dalih mencerdaskan bangsa. Pura-pura mendengar jeritan masyarakat kecil yang masih kekurangan intelektual dengan menciptakan suguhan politik yang bermuara kepada oligarki.

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.