Banner sumsel

Aspahani: Sebelum 9 Juli Belum Ada Calon Gubernur Sumsel Kalah Atau Menang

PALEMBANG,koranindonesia.id Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumsel, Aspahani mengatakan, KPU sebagai penyelenggara pemilu, berkewajiban mengawal Pilkada Sumsel agar berjalan baik tanpa ada yang mencederainya.

“Logistik sudah berada di TPS pada H-1. Sedangkan perhitungan di TPS sudah dilakukan dengan mengisi C1 dan model D di kecamatan.  Itulah landasan menentukan paslon terpilih,” ujarnya saat konfrensi pers di kantor KPU Sumsel, Jumat (29/6/2018).

Aspahani menjelaskan,  untuk hitung cepat KPU atau real count ini merupakan transparasi KPU yang dilaporkan KPU kabupaten/kota, dengan melaporkan C1 secara langsung. Itu merupakan bagian dari informasi dihitung itu arus informasinya.

“Ada informasi yakni arus dokumen di kotak suara dan arus informasi mulai dari TPS hingga KPU,” katanya.

Lebih lanjut Aspahani mengungkapkan,  C1 adalah dokumen negara yang berhologram dan  itu menjadi acuan perhitungan suara. Sedangkan untuk hitung cepat atau real count belum 100 persen data yang masuk dan baru  Ogan Ilir yang sudah 100 persen masuk.

Sedangkan kabupaten/kota yang lain seperti Palembang,  Lahat,  Muara Enim,  Empat Lawang dan PALI saat ini masih ada yang belum selesai.

”Itu bukan KPU kabupaten kota yang menghambat tapi karena masalah teknis kondisi di lapangan terutama untuk daerah yang jauh,” ucapnya.

Untuk kotak suara,  dia menjelaskan,  tidak boleh menginap setelah pencoblosan. Oleh sebab itu,  pihaknya telah bekerjasama dengan polisi.

“Yang menjadi acuan penghitungan suara adalah C1 yang berhologram.  Kita lihat rekapnya.  Kalau ada selisih maka dihitung ulang surat suara sah.  Itu yang menjadi penetapan paslon. Hasilnya kita komit 9 Juli nanti.  Kami tidak mau menyebut kalah dan menang sebelum 9 Juli,” katanya.

Seperti di Banyuasin, kalau ada yang menolak hasil penghitungan,  silahkan ke Panwaslu.  Setelah ada rekomendasi.  Nanti akan ditindaklanjuti.

Sementara itu, Komisoner KPU Divisi SDM dan Parmas Ahmad Naafi menambahkan, target KPU RI partipasi pemilih di Pilkada 77,5 persen. Di Sumsel berdasarkan real count sudah masuk suara pemilih 3.375.777 dari scan C1. Proses ini masih berlangsung sampai scan C1.

“Walaupun tidak sampai 77 persen.  Kami berharap bisa samai 75 persen. Sampai pagi tadi sudah 71 persen suara masuk . Ini terjadi peningkatan peratisipasi pemilih di 10 kabupaten. Proses real count masih berjalan.  Jadi masih akan meningkat partisiasi pemilih,” bebernya.

Menurutnya,  peningakatan pemilih karena ada sinkronisasi data pemilih,  jadi data yang diperoleh data aktual.  Yang tidak terdaftar di DPT tapi bisa masuk di DPT Tambahan.

Kapolda Sumsel Irjen Pol Zulkarnain Adinegara menambahkan,  pengawalan polisi dilakukan melekat mulai dari TPS, KPPS PPK hingga KPU.

“Kotak suara tidak boleh menginap.  Kalau ada hambatan itu terjadi hambatan teknis di lapangan.  Polisi netral, itu harga mati. Kita pastikan pelaksanaan Pilkada ini aman, dan panitia tidak diganggu, ” katanya.

Mengenai kejadian di Lahat dan Muara Enim,  Zulkarnain mengungkapkan,  unjuk rasa itu boleh.  Namun massa harus menjaga keamanan dan kondusifitas.

“Dinamika demokrasi tapi jangan melakukan intimidasi. Jangan melawan hukum,  personil sesuai tahapan.  Saya kesini untuk memastikan keamanan fisik, penyelenggara dan substansif.  Jangan ada pihak yang terzolimi. Jangan ada yang merasa hasil pilkada ini ada yang merasa terzolimi. Satu suara pun tidak ada yang terzolimi,” paparnya.

Zulkarnain mengungkapkan,  masalah di Lahat itu ada anggota keluarga paslon yang menang itu dibully.  Kalau dilapangan cukup bukti dijadikan tersangka. “Masalah tersangkanya akan kita cari,” pungkasnya.(win)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.