Banner Pemprov 2020
Banner september

Anthon Sihombing Nilai Perang Dagang AS- Tiongkok Momentum Baik Bagi Indonesia

 

JAKARTA, koranindonesia.id – Konflik antara Amerika Serikat ( AS) dengan Tiongkok, sesungguhnya merupakan kabar baik bagi Indonesia. Sebab, perang dagang tersebut merupakan momentum bagi Indonesia, untuk ‘menangkap” industri industri AS yang berada di Tiongkok untuk kepentingan nasional.
Ketua Umum lembaga Transpransi, Reformasi, Aparatur, Pengawasan, Asset Negara (TRAPAN) Capt. Dr. Anthon Sihombing, MM, Mmar menyatakan hal itu kepada wartawan di Jakarta, Rabu ( 24/6/2020).
Mantan anggota DPR RI dari Dapil Sumut III ini berpendapat, kepentingan AS di Tiongkok yang terhambat karena perang dagang, harus bisa digantikan oleh Indonesia.
Industri –industri AS yang berada di Tiongkok yang direncanakan akan direlokasi ke luar Tiongkok, harus bisa “digarap” oleh Indonesia.
Artinya, Indonesia bisa memainkan “catur dagang”, untuk menekan Tiongkok agar mau berinvestasi di Indonesia.
Selama ini, kata Anthon, eksport bahan baku ( raw material) ke Tiongkok yang dikeruk dari bumi Indonesia tidak memiliki nilai tambah, sehingga tidak dapat mempengaruhi neraca perdagangan ke arah yang positif.
Saat ini, Indonesia punya kesempatan untuk memaksa Tiongkok mengimpor barang setengah jadi, atau barang jadi dari Indonesia. Dengan demikian, eksport Indonesia memiliki nilai tambah dibandingkan dengan hanya mengeksport bahan baku.
Perang Dagang AS-Tiongkok berdampak pada pelambatan pertumbuhan ekonomi global, yang tentunya Indonesia termasuk di dalamnya.
Pelambatan ini kian diperparah oleh pandemic Covid-19, karena AS sebagai kekuatan ekonomi utama dunia menjadi negara yang paling menderita akibat Covid-19.
Kader militan Partai Golkar sejak duduk dibangku kelas 3 SMP tahun 1964 di P.Siantar ini melihat, disatu sisi, perang dagang AS-Tiongkok semakin dalam.
Sebab, bukan lagi hanya terkait dengan urusan dagang, melainkan sudah masuk dalam ranah kedaulatan negara. Supremasi militer dan pertahan kedua negara semakin ditonjolkan untuk menguji kekuatan masing-masin.
“Hampir tidak ada negara di dunia yang diuntungkan, bila eskalasi “perang” AS-Tiongkok semakin tajam “ ujar Anthon sambil menambahkan, dalam kondisi objektif seperti itu Indonesia tidak bisa larut mengikuti suasana, tetapi harus menghindari peperangan yang lebih keras, namun mengutamakan diplomasi.
Indonesia tidak bisa berpangku tangan, menanti hubungan AS-Tiongkok pulih kembali, agar terhindar dari kemerosotan pertumbuhan ekonomi.
Justru dalam kesempatan ini, Indonesia harus memaksimalkan potensinya, membangun ekonomi yang kompetitif, unggul, sehingga dapat menawarkan solusi di bidang ekonomi.
Memang, tantangan bagi Indonesia adalah kesiapan Sumber Daya Manusia(SDM). Karena itu, harus dipersiapkan SDM yang produktif, kreatif dan inovatif.
Sebab, hanya dengan seperti itu, Indonesia mampu menciptakan ekonomi unggul. Jika, Indonesia masih tetap memosisikan dirinya sebagai konsumen atas keberhasilan ekonomi negara-negara lain, maka Indonesia bisa diombang ambingkan konstelasi politik-ekonomi global.
Akibatnya, tidak bisa berbuat banyak dalam kancah internasional dan sangat tergantung pada dua kekuatan ekonomi kedua negara , AS dan Tiongkok. Makanya, Indonesia harus mampu menciptakan pasar baru bagi produknya, diluar pasar utama.
Wilayah Indonesia yang sangat luas dengan jumlah populasi penduduk yang sangat banyak, merupakan keunggulan tersendiri dalam menghadapi ekonomi global.
Dominasi Tiongkok di Asia Tenggara seharusnya bisa diambil alih Indonesia. Setidaknya, Indonesia berpeluang menciptakan blok ekonomi baru di Asia Tenggara.(Mar)

.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.