Aktivis 98 Bukber di Kopol Bergerak Bersama Mengawal Demokrasi

JAKARTA, koranindonesia.id – Aktivis 98 lintas organisasi menggelar pertemuan di Kopi Politik (Kopol), Kawasan Pakubuwono, Jakarta Selatan. Momen silaturahim tersebut bertujuan untuk menjaga dan merawat demokrasi di Tanah Air.

Sebab, aktivis termasuk elemen penentu terhadap perubahan. Baik di bidang politik, ekonomi, budaya maupun ketahanan.

Direktur Ekskutif Oversight of the Indonesian Democratic Policy Satyo Purwanto berharap, pertemuan  tersebut, menjadi media pemersatu masing-masing perspektif dalam melihat persoalan dan kondisi bangsa saat ini.

“Diharapkan bisa melahirkan formulasi, bergerak melakukan bakti yang terbaik untuk membangun negeri tercinta Indonesia,” kata Satyo dalam keterangannya, Rabu (27/4).

Meskipun, kata dia, masing-masing aktivis yang hadir dalam pertemuan yang diawali dengan buka puasa bersama itu menyampaikan kritik dan pro terhadap kebijakan pemerintah. Namun, pada akhirnya semua sepakat untuk satu pandangan.

“Tegas meneguhkan sikap mengawal demokrasi,” tegas aktivis ’98 ini.

“Walaupun hanya diselenggarakan di warung kopi. Namun esensi sebenarnya adalah ingin memberikan contoh bahwa, hingga saat ini masih ada demokrasi di Indonesia. Terbukti dengan digelarnya mimbar bebas untuk memberi masukan buat bangsa, sebagai wujud kebebasan dalam berpendapat,” jelasnya.

Satyo menambahkan, aktivis yang hadir menyatakan kebulatan tekad untuk merawat bangsa. Bahkan meningkatkan kualitas sistem pemerintahan dari rakyat, untuk rakyat dan oleh rakyat, melalui pemilihan umum (pemilu) yang demokratis. Walaupun, terdapat isu penundaan pemilu yang sebetulnya mencoreng demokrasi.

Indonesia, kata dia, harus menjamin semua orang berpartisipasi. Baik terlibat aktif, maupun mengontrol kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Tidak bisa hanya diatur oleh segelintir orang, maupun kelompok yang disebut oligarki. Sebab hanya melalui kebebasanlah, setiap warga negara dapat saling berbagi sebuah kekuasaan di dalam negaranya sendiri.

“Semoga, bertemunya kelompok pro pemerintah dan oposisi dapat menumbuhkan semangat baru berdemokrasi di Indonesia yang lebih baik. Sekaligus mencuri perhatian dunia internasional, karena melihat bisa berkumpulnya dua pihak pro dan kontra melalui satu semangat dalam membangun demokrasi yang terstruktur,” pungkasnya.(Mar)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.