Adakah Kejutan  Pilkada Kota Palembang?

Hanya menghitung hari warga Palembang akan menentukan pemimpinnnya lima tahun kedepan.Pilkada kota Palembang  akan digelar 27 Juni 2018. Dan kita tahu bahwa ada empat calon yang akan melakukan kontestasi, berikut ulasan dari pemerhati politik dan Ketua Forum Demokrasi Sriwijaya (ForDes), Bagindo Togar BB.  

Selepas kemeriahan lebaran Idulfitri, warga Palembang akan dihadapkan pada ” Pesta Rakyat”  dari suasana dan nuansa religius sosio kultural berganti kepada kontestasi politik pemerintahan. Efektifnya tak lebih seminggu dari sekarang pemilihan walikota untuk periode 5 tahun ke depan akan digelar, tentu harapannya  bakal meriah, menarik dan ada kejutankah pada saat atau hasilnya kelak. Atau jangan-jangan malah  sebaliknya, ” biasa biasa saja, adem ayem dan bisa ditebak hasilnya”. Mari kita deskripsikan alur secara sekilas dengan analisis yang sederhana.

Kota Palembang  memiliki sekitar  1, 83 Juta jiwa dengan Daftar Pemilih Tetap (DPT) kurang lebih 1, 136  juta yang tersebar di 17 kecamatan dan 107 Kelurahan. Kalau dianalisis tipologi atau karakteristik masyarakat perkotaan hamper mirip dengan kota lainnya yaitu cenderung rasional, rata rata tingkat pendidikan &  mobilitas tinggi, dinamis, pluralistik, polarisasi sosial yang beragam ,tingkat kesejahteraan sosialekonomi relatif menengah keatas serta gandrung akan percepatan perubahan.

Nah, sebetulnya dengan melihat tipologi itu saja semua calon pasti sudah memperhatikan karekter pemilih mereka nantinya,  Pemilihan WaliKota Palembang merupakan bagian dari Pilkada serentak secara nasional, di  Sumsel ada 8 Kabupaten/Kota dan 1 Provinsi.

Menurut Bangindo sukses tidaknya Pemilukada tersebut, sangat tergantung kepada keseriusan, kreatifitas, militansi, profesionalitas dan kejujuran atau netralitas penyelenggara, yakni KPUD/Panwaslu dan pihak terkait yang bermuara kepada tercapainya tingkat partisipasi pemilih ( warga) dalam menggunakan hak hak politiknya. Lantas, bagaimana proses, realitas & evaluasi aktifitas kompetisi demokrasi di kota ini nanti?

Ada 4 ( empat ) Pasangan Calon Walikota yang bertanding untuk memperoleh simpati atau pilihan dari beragam lapisan masyarakat agar bisa memperoleh amanah menjadi Walikota Palembang hingga tahun 2023. Tiga melalui jalur dukungan Partai Politik dan satu lewat dukungan jalur perseorangan. Beragam upaya sosialisasi mengkampanyekan sosoknya berikut program kerja atau janji janji politik yang disampaikan ke publik. Gunanya tidak lain untuk peningkatan elaktibilitas dan penguatan peluang kemenangan tatkala di hari pencoblosan.

Palembang sebagai teras provinsi ini, jelas lebih lebih menyita sorotan  publik daerah ini, dimana bentuk dan  level kebutuhan pembangunannya berbeda dari kabupaten/kota lain di provinsi ini. Acapkali juga ragam ekspresi & tingkat kepuasan masyarakatnya juga berbeda pula. Sekedar Mereview memori warga palembang, di era kepemimpinan Ir.H.Eddy Santana Putra MT ( ESP) kepuasan juga kekaguman masyarakat begitu luar biasa atas kinerja beliau, dimana wajah tampilan dan pelayanan publik begitu kasat perubahannya dilihat atau dirasakan secara massif oleh publik kota ini.

Sayangnya undang undang tak memperkenankan masa Jabatan lebih dari 2 periode, kalo hal itu diperbolehkan, ” caknyo katek” calon wako yang berani ” Belago ” dengan beliau Sang Walikota Legendaris Kota Tua ini. Tetapi, kondisi politik sekarang berbeda, petahana sekarang ditantang oleh tiga paslon memperebutkan jabatan kepala daerah Kota Palembang. Bahkan ada satu Paslon merupakan ” Seteru lama” yang ” kemenangannya “diperoleh melalui putusan hukum sengketa Pilkada dari MK. Tak mudah melupakannya,bagi  warga Kota ini, tentu saja aroma Revenge Politik  tak terhindarkan bak kompetisi” El Classico “. Semoga akan menjadi suguhan tontonan yang menarik. Dimana ” Squad Fanatiq ” antar paslon akan berjuang luar biasa untuk menjadi pemenang, ” Win or Lose” dengan sistem ” sudden death game” .

Semua paslon fokus pada satu tujuan, yaitu menjadi pemenang , bukan juara atau rangking. Paslon pemenang, akan memperoleh Jabatan Walikota & Wakil Walikota periode 2018-2023,  sedangkan tiga Paslon lain dipersilahkan ” menghadiri ” pelantikan paslon Wako terpilih alias Sang Pemenang, kalau mau hadir.

Disisi lain, akhirnya seperti pada topik awal tulisan ini, adakah kejutan Politik dalam Pilkada Kota ini? Jawaban yang sangat pantas dan jelas, dipastikan ” Ada Kejutan ” dengan Tampilnya pemenang yang didambakan atau diidamkan oleh masyarakat Kota ini, seperti yang pernah mereka alami periode pemerintahan tahun 2003- 2013, Era Kepemimpinan ESP sebagai Walikotanya. Rakyat rindu gaya dan daya kepemimpinan ESP.

Nah..agar warga Kota mendapatkan figur  pemimpin seperti itu, tentu butuh dukungan dari beragam lembaga,sistem & Instrumen yang berintegritas juga kredibel. Misalnya, Partisipasi politik masyarakat yang tinggi minimal 70% dari DPT yang ditetapkan, terbebas dari praktik politik uang, Netralitas ASN yang berkomitmen, tidak terlibat kegiatan politik. Pelaksanaan pemilihan yang bersih, transparan, jujur, adil & faktual serta penyelenggara yang profesional, independen, kredibel & responsif, kemudian hasil pelaksanaan pilkada yang mudah diakses oleh beragam kelompok masyarakat. Bebas dari intervensi elite kekuasaan dimulai dari KPPS   sampai berakhir di pleno penetapan hasil perolehan pemungutan suara pemilihan di KPUD.

Bila semua unsur yang dijabarkan mampu dilakoni serta disepakati implementasinya dalam praktek demokrasi pemilihan walikota sebentar lagi, percayalah akan “Ada Kejutan Politik ” .., yakni munculnya kembali walikota yang  mampu menggagas perubahan kearah yang lebih baik. Tentu saja, pemimpin yang legimated, amanah, profesional, visioner,populis dan tidak  koruptif.(ard)

 

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.