Banner sumsel

400 Ton Sampah Tidak Terangkut, Kecamatan Kalidoni Jadi Percontohan

PALEMBANG, koranindonesia.id- Sampah terus menjadi permasalahan di Kota Palembang dan sepertinya tak ada habisnya. Bahkan, 400 ton sampah tidak terangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sehingga diharapkan setiap kecamatan harus mengelola Bank Sampah.

Asisten I Bidang Pemerintahan Setda Kota Palembang, Sulaiman Amin mengatakan pengelolaan sampah dengan metode instalasi pengolahan bank sampah Reuse, Reduce dan Recyle (3R) yang ada di Kelurahan Kalidoni Kecamatan Kalidoni patut dicontoh.

Sulaiman mengatakan, di Kelurahan Kalidoni ini mampu menghasilkan income Rp10 juta per bulan dari pengolahan sampah. “Di Kalidoni ini bisa jadi contoh. Maka ini patut menjadi contoh bagi kecamatan lain,” ujarnya usai rapat pengolahan sampah 18 kecamatan di Ruang Parameswara, Rabu (8/5/2019).

Sulaiman menjelaskan jumlah sampah di Kota Palembang per hari mencapai 1200 ton sampai 1300 ton perhari. Namun yang terangkut hanya 800 ton. “Artinya 400 ton lagi sampah ini masih berceceran dimana-mana. Inilah upaya kita untuk bisa mengatasi masalah sampah ini,” ujarnya.

Sementara itu, Camat Kalidoni Arie Wijaya mengatakan, instalasi pengelolaan bank sampah yang bernama Sriwijaya Bersatu ini sudah beroperasional sejak satu tahun lalu. Meskipun baru, namun pengelolaan sampah ini mampu membawa income bagi kecamatan setempat yang bersumber dari sampah.

Dari pengelolaan sampah-sampah ini menghasilkan pupuk. Pupuk yang terbuat cair dari sampah organik yang basah dan pengolahan pakan ternak ikan yang berasal dari ulat. “Untuk ulatnya sendiri kita kembangbiakan karena kita lihat tadinya ada sampah sisa-sisa sayur mentah yang kita gunakan sebagai bahan makannya,” jelasnya.

Lanjut Arie, pengembangan ulat ini sangat baik untuk makan ternak. Selain harga jual yang cukup tinggi yakni Rp 6500 juga mengembang biakkan ulat ini cukup dengan makan sampah.

“Efeknya juga bagus untuk pakan ternak seperti ikan pengganti pelet,” ungkapnya.

Katanya, jika perharinya bisa menampung dan mengerjakan sampah tersebut satu kontainer karena pihak mengalami kesulitan dalam memilah sampah tersebut. Belum lagi pihaknya menerima sampah langsung dari masyarakat setempat yang datang serta dari motor bak sampah.

“Ini baru tahapan edukasi belum sampai pada tahap produksi besar-besaran, namun kedepan kita harapkan bisa meningkatkan semua itu. Kita juga menghasil minyak dari sampah plastik kresek, untuk sementara bisa menghasilka 10 liter saja karena kapasitas mesin yang belum memadai,” jelasnya. (Iya)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.